WANITA TUA ITU

Aku baru saja mengenalnya. Belum sampai enam bulan aku mengenalnya. Mendengarkan cerita-cerita darinya adalah hobiku ketika pertama kali mengenalnya. Apalagi mendengarkan cerita tentang perjuangan dan usahanya untuk membuat sebuah rumah pembentukan kepribadian itu. Membuatku kagum dan terpanah padanya.

Bagaimana tidak kawan, coba bayangkan demi mendidik dan memberikan kehidupan yang layak kepada anak-anak yang kurang beruntung dalam hidupnya dia rela mengorbankan segalanya. Bahkan SK nya sekalipun telah tergadai ke Bank untuk mendirikan rumah pembentukan kepribadiannya itu. Sampai detik ini, 24 tahun berlalu tak sepeserpun gaji yang di terimanya dari upayanya mencerdaskan kehidupan bangsa. Harta yang paling berharga bagi seorang pegawai negeri adalah SK dan harta itu telah di gadainya untuk rumah pembentukan kepribadiannya itu.

Terbayangkah oleh kita? Ketika semua teman-teman kerjanya setiap bulannya menerima amplop dan pulang ke rumah dengan kantong yang berisi, tapi wanita tua itu tidak menerima apapun setiap bulannya. Dia setiap bulannya pulang dengan kantong kosong. Namun dia selalu berkata, Insya Allah Ibu juga pulang ke rumah dengan kantong berisi. Walau Ibu tidak tahu kapan isinya akan Ibu ambil dan Ibu nikmati dengan anak-anak Ibu di rumah. Dia tetap tersenyum kawan.

Hatiku basa ketika mendengarkan semua itu. Tapi tak seditpun aku melihat penyesalan di mata tuanya ketika menceritakan semua itu. Dia berkata dia puas menjalani semuanya. Karena dia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Itulah kata-kata yang selalu di ucapkannya setiap kali aku protes dengan apa yang telah dilakukannya. Tahukah kalian, bahkan untuk menghidupi anak-anak yang jumlahnya 30 orang itu, dia rela pergi ke sawah. Menggarap sawah dan ladangnya dengan jarinya yang sepuluh. Oh tak terkira rasanya perjuangan yang dijalaninya.

Bahkan ketika semua orang yang mendirikan yayasan berlomba-lomba mencari donatur untuk menyumbang ke yayasan mereka, tapi wanita tua yang aku kagumi itu tidak melakukan hal yang serupa. Kamu tau kenapa? Aku pernah bertanya kenapa tidak mencari donatur untuk membantu biaya operasional di rumah pembentukan kepribadian ini. Dengan enteng dia menjawab. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang tipis. Keriput di ujung matanya semakin jelas. Disentuhnya tanganku. “Kamu tau nak, agama kita melarang meminta-minta. Ibu tidak akan mengajarkan anak-anak ibu untuk menjadi pengemis berpakaian rapi. Allah tidak suka dengan orang yang kerjanya hanya meminta-minta. Bukankah tangan di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah? Ibu yakin, masing-masing dari anak-anak ibu yang ada di rumah ini, reskinya sudah ada. Ibu yakin Allah tidak akan menelantarkan mereka. Ibu tidak akan meminta-minta kepada para dermawan yang ada di negeri ini. Jika mereka ingin memberi bukankah tanpa di minta mereka akan datang sendiri ke rumah ini? Maka itulah rezki anak-anak ibu. Bagi Ibu cukup dengan semua itu. Sekali lagi Ibu katakan, karena Ibu tidak ingin anak-anak ibu menjadi pengemis berpakaian rapi.

Ha……….. Lagi-lagi air mata itu mengalir deras mendengarkan penuturan yang keluar dari mulut yang mulai mengeriput itu. Betapa aku malu kawan, karena selama ini untuk menghidupi diri sendiri saja, aku masih sering meminta-minta kepada orang lain. Tapi lihatlah wanita tua itu, dengan gagah dan perkasa dia berdiri dengan kepala menatap lurus ke depan, mengais rezki dengan sepuluh jari yang dimilikinya, tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tapi ada 30 orang anak yang sedang menanti hasil dari apa yang di kaisnya itu.

Dan yang luar biasanya lagi ternyata semua anak yang ada di rumah pembentukan kebribadian ini, mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka bisa mengenyam bangku pendidikan sampai tingkat kuliah. Sesuatu yang tidak akan mereka dapatkan dari orang tua mereka sendiri. Tapi disini, di rumah pembentukan kepribadian itu mereka mendapatkannya. Kamu tau dari mana uang untuk kuliah mereka di dapatkan? Lagi-lagi uang itu di dapatkan oleh wanita tua itu dari hasil sawah dan ladang yang di garapnya. Ditambah nanti jika ada orang yang baik datang dengan sendiri tanpa di minta kesana dan memberikan beberapa dana seperti yang dikatakan oleh wanita tua itu.

Kawan, awalnya saya merasa kehidupan ini begitu naif dan dunia ini telah di penuhi oleh orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tapi di sudut kecil sebuah kampung tanpa sengaja saya menemukan seseorang yang luar biasa, yang mau berkorban jiwa dan raga untuk anak-anak yang kurang beruntung di dalam keluarga mereka. Dan hal itu telah membuka lebar mata saya. Ternyata di tengah kemelut kehidupan yang seperti berpacu dalam melodi ini, masih ada orang yang mau menyelamatkan kehidupan mereka yang kurang beruntung dalam keluarga yang mereka miliki, sehingga mereka mendapatkan pendidikan yang layak dan kehidupan yang layak di rumah itu.

Mereka diajarkan arti kehidupan, kala suara mengaji-ngaji terdengar dari masjid dan surau, mereka yang masih berumur 3-12 tahun itu dibangunkan dan di tuntun untuk mendirikan tahajud. Di usia yang masih dini, mereka di didik dengan lingkungan reliji yang sangat spektakuler. Siapa yang melakukannya? Itulah dia wanita tua yang sangat aku kagumi itu.

Tapi sahabat, saat ini wanita tua itu sedang di landa kekhawatiran. Dia memang tidak pernah mengatakannya, karena aku tau seperti apapun kesusahan yang di hadapinya dia tidak akan mengatakan kepada siapapun. Karena dia pernah berkata, dia hanya akan mengadukan semuanya kepada Allah sang pemilik kehidupan ini. Dia hanya akan menjalani kehidupan ini sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan untuknya. Subhanallah. Luar biasa bukan?

Hari ini tahun ajaran baru di mulai. Sembilan dari 30 orang anak-anaknya masuk sekolah tahun ini, tentu saja butuh dana bukan? 1 dari 30 anak-anaknya akan kuliah, juga butuh dana. 2 dari 30 anak-anaknya masuk SMA butuh lagi dana. 4 dari 30 orang lagi juga akan masuk SLTP juga butuh dana. Sementara baru-baru ini wanita tua itu baru saja mengeluarkan banyak uang untuk biaya resepsi pernikahan adik sepupu perempuan yang telah mengikutinya selama 20 tahun.

Kamu tau sahabat, aku ingin sekali membantu meringankan bebannya. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hanya menulis tulisan ini yang bisa aku lakukan. Aku berharap semoga saja dalam waktu dekat ini ada orang baik seperti yang di katakan wanita tua itu datang ke rumah ini dengan sendirinya, sehingga meringankan beban berat yang sedang di pikul wanita tua itu.

Andai wanita tua itu tau, aku membuat tulisan ini, mungkin aku akan di marahinya. Dan berkata kepadaku, kenapa di ceritakan cerita yang tak berbobot itu kepada semua orang? Itu tidak harus di ketahui oleh banyak orang, karena apa yang Ibu lakukan belum apa-apa. Itu merupakan kewajiban kita sesama muslim. Allahu Akbar, justru karena itulah kawan aku ingin sekali menulis ini dan menceritakan semua ini. Agar semua orang bisa mencontoh apa yang sudah di lakukan oleh wanita tua itu. Aku tidak peduli jika tulisan ini di ketahui aku akan dimarahi oleh wanita tua yang bersahaja itu.

Kamu tau kawan, siapa wanita tua itu? Dia adalah malaikat yang di kirimkan Allah untuk anak-anak kurang beruntung dalam keluarga mereka di sebuah rumah pembentukan kepribadian di Panti Asuhan Alawiyah Zein, yang terletak di sebuah desa kecil yang bernama Simabur. Kec. Parianga. Kabupaten Tanah Datar. Disanalah wanita tua itu telah menginfakkan dirinya untuk mendidik anak-anak yang luar biasa yang di titipkan kepadanya.

Iklan

About the post

Uncategorized

3 Comments

Add yours →

  1. sungguh pengorbanan yg sangat mengharukan untuk anak-anak yg kurang beruntung, balasannya adalah sorga, siapa yg memelihara anak yatim dirumah, akan dibangunkan sebuah istanana di sorga

  2. aku termasuk anak binaannya, alhamdulillah berkat bianaan beliau dari semenjak 1989 dan alhamdulillah saya telah bekerja dan berkeluarga

  3. Alhamdulillah. Apa masih sering berkunjung ke sana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: