Puisi Liza Martha Lova

Rintik-rintik kecil
Rintikan di atap…
Pekakkan telinga…
Aku terjaga dari tidur yang melelahkan
Hawa dingin…
Tusuk tulang belulang…

Aku mendengus…
Rasa perih di hulu hati,
Belum mampu lari dari sarangnya…
Aku tertegun…

Gelegar itu…
Hancurkan berjuta mimpi
Rintikkan itu semakin keras
Pekakkan genderang telinga

Di ujung daun…
Tetesan-tetesan itu berayun
Sejukkan hati yang terluka
Aku meratap..
Hati ini telah terlanjur tercabik…
(10 Desember 2010)

Bulan Sabit
Bulan sabit di ujung malam
Sisakan luka di dalam dada
Senyap…
Lama aku tertegun…
Tak ada tanda-tanda kehidupa…

Sepi  yang mencekam…
Tegakkan bulu kuduk…
Aku ternganga…
Luka itu terasa perih
Menusuk-nusuk ulu hati

Aku terhempas…
Tubuhku terguncang…
Dan…
Seduh sedan itu memecah keheningan…
Aku tersadar…
Bulan sabit itu…
Tersenyum di ujung gelap…
(15 Desember 2010)

Luka itu….
Adik…
Matamu berbinar-binar…
Bak cahaya violet yang berpendar…
Kekhawatiran renyah…
Merangsang gendrang telinga….

Adik…
Hari ini senyum tulusmu memudar…
Entah apa yang terjadi…
Luka itukah yang membuatmu tidak mampu untuk tersenyum?

Celotehmu di sore hari tentang cita dan impianmu…
Tak lagi aku dengarkan…
Goncangan itukah yang telah membunuh segala mimpimu?
Hentakan itukah yang telah mencerabuti akar citamu?

Adik…
Aku rindu wajahmu yang ceria…
Aku rindu ketawamu yang renyah…
Yang menghangatkan telingaku…
Bilakah kan ku rasakan itu lagi?

Adik…
Bumi ini sepi tawamu..
Bumi ini gelap tanpa binar cahaya matamu….
(05 November 2010)

Makna waktu…
Perenung alam segala bakti
Satu tujuan berjuta langkah beribu cara…
Mematikan, mengerikan bagi jiwa-jiwa yang nyaris mati…

Memilih taruhan nyawa…
Benamkan kampak-kampak duka, belatih keji..
Hanyut dalam mata yang tak berkelopak menjadi perih…
Saat perenungan itu….

Aku tidak paham tentang waktu…
Kata orang yang paling akrab dengannya buku usang
(27 November 2010)

Tuan Negeri itu..
Hamparan nan sunyi artikan satu detik waktu dari kumpulan jutaan masa…
Dahulu tak tertulis sedikitpun dari kitap siang yang aktif sembunyikan malam…
Dan malampun setia lindungi teriakan siang..

Buhul-buhul kelambu tanah
Cerita tiap langkah ukiran kaki yang bingung
Lantaran jejak siapa?

Hamparan sunyi hakimi setiap cela tanpa suap
Sembunyi dua alam atas sayap-sayap suratan semesta..
Teringat rindu para dermawan,
Penyumbang air mata kala bersama…
Bergelimang parfum duka untuk teruskan sampai kesini..

Di atas hamparan sunyi,
Terpancang kokoh nama-nama tuan negeri
Negeri sejati bagi tiap penikmat nyawa…
(20 Desember 2010 )

Tarian Keabadian
Di batu itu,
Telah kita ukir baris cerita bathin…
Yang bertema keajaiban tarian cinta
Tema yang tak terbatas oleh benteng keabadian…
Menghidupkan kembali tulisan senja,
Yang hampir hilang di telan malam…
(29 November 2010)
Keajaiban Subuh
Diam-diam subuh tawarkan satu keagungan
Bumi jiwa dalam pelukan kasih
Hidupkan asa yang tak terdeteksi itu…
Berlaut jingga di pucuk-pucuk mimpi
Tunjukkan bayang-bayang pipit kembangkan sayap..
Di bawah kedamaian langit cinta…
Hujan senyum sejukkan rasa dalam tiap-tiap sudut dimensi kehidupan…
Remang-ramang warna subuh mulai memudar…
Tampak di sana maha sempurnah penciptaanNya…
Subhanallah….

Sang Desainer
Tancapkan tongkat juang sebagai pancang tali-tali itu…
Ada sedetik masa, taklukkan serpihan bambu…
Adalah keping jutaan dari penyusun tugu yang kokoh…
Kelak menjadi simbol kenangan yang kekal
Sataun sekon dapat maknai misteri-misteri adanya desainer tugu itu…
Ialah terlahir dari sejuta kenikmatan dan kepercayaan
Dengan tangan halus ia tumbuh,
Karena ia kan menjadi seniman jiwa di Negeri ini….
Teramat hebat pemutar waktu…
Puzle-puzle kemaren belum tesusun rapi…
Mata yang baru saja tertidur…
Gamang memandang keluar jendela
Mentari itu telah tinggi…
Kupu-kupupun mulai terbang tinggalkan taman…
Teringat kembali sang desainer…
Siapkan tugu itu….
(04 Desember 2010)

Keindahan Semu
Geluti diri, karena tubuh ini mulai melemah…
Hancurkan tiap pemanis rasa gunda yang sungguh mengganas..
Bukan bisa ular yang mematikan…
Tapi racun hati yang kacaukan asa…
Dengar cerita tentang sebongkah pualam jingga yang indah lagi kokoh
Hanya dengan keyakinan kuatkan impian,
Penyusun tebing nan curam…
Dan taukah?
Ia hanya sekedar ciptakan senyum keindahan yang terjaga…
( 06 Desember 2010)

Iklan

About the post

Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: