Sinopsis Novel AIBI

Mendapatkan gelar best student award, dalah kesempatan yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Hanya orang-orang pilihan yang mendapatkannya.  Tidak hanya itu tapi juga tercatat sebagai mahasiswa organisatoris yang berprestasi hingga mendapatkan penghargaan dari University of Australia. Sehingga namanya telah kenal oleh semua orang di kampusnya tercinta. Tak ada orang yang kenal dengannya, semuanya merindukan kehadirannya. Pintar, ramah, energik dan sholehah komentar orang-orang tentang dirinya. Tapi saat ini itu hanya sebuah kenangan yang telah pupus dimakan rayap pembangkangan. Masihkah perlu di banggakan? Itulah mula perjalan dalam kehidupan ini yang di lalui Aibi.

Semua kebahagian yang dirasakannya dalam waktu sekejab hilang sirna di telan bayangan. Lima tahun lamanya dia terpuruk dan menghujat Tuhan akan perihnya kehidupan yang di jalaninya. Namun cahaya keimanan yang telah di pupuknya dari dulu di sanubarinya, akhirnya muncul menerangi kembali perjalan hidupnya yang hanya tinggal sisa-sisa dari daki kesedihan yang di alaminya. Berangsung-angsur dia mulai pulih dan menata kembali kehidupan yang di laluinya. Apa yang terjadi dalam hidupnya biarlah menjadi kenangan dan pelajaran baginya. Kelumpuhan yang dialaminya yang selama ini membuatnya frustasi dan sengsara tak lagi menjadi persoalan baginya, karena yang penting baginya saat ini adalah bahwa dirinya masih bermanfaat untuk orang banyak, untuk ummat, untuk dakwah ini.

Tapi ujian kehidupan ini tidak sampai di sana ternyata. Dan Allahpun menunaikan janjiNya kepada hamba-hamba yang di pilihNya. Semakin kuat keimanan seseorang maka akan semakin besar ujian yang di laluinya. Aibi menyadari akan hal itu. Semuanya adalah ujian dari Allah. Tapi sebagai manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan kesabaran, akhirnya semuanya kembali berkeping-keping.

Pernikahan yang sejatinya sangat diinginkan banyak orang, karena kata mereka pernikahan merupakan syurganya dunia. Tapi ternyata Aibi dan suaminya hanya mengalami kesepian panjang yang tak berpenghujung. Hanya kebisuan yang tak berpenghujung yang mereka hadapi. Apakah kehidupan dan kebahagian ini tidak mau berpihak kepada mereka? Kenapa hanya air mata yang selalu mereka keluarkan? Seakan-akan air mata telah menjadi sahabat mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan pun sering keluar dari mulutnya yang sudah terkunci rapat untuk suaminya tercinta.

Kristal-kristal hati yang kemaren telah pecah berderai karena duka yang di alaminya, yang telah sempat di rekatkannya, kini kembali pecah. luluh lantak ke bumi. Meluruh semua rasa yang dimilikinya. Kenapa kehidupan ini begitu kejam padanya? Baru di rasakannya kebahagian dari belaian suami yang di cintainya, kenapa dia dihadapkan lagi dengan sebuah kenyataan yang sangat pahit, bahwa dirinya tidak bisa menjadi istri yang di harapkan oleh suaminya tercinta.

Dengan susah payah kembali di himpunnya kekuatannya, di kumpulkannya kembali sisa-sisa dari kesabaran yang dimilikinya, dan di persiapkannya hatinya menghadapi semua yang terjadi. Keputusan beratpun di ambilnya untuk menyelamatkan suaminya tercinta dari perbuatan maksiat. Walau berhujan air mata, tapi harus melakukannya. Dan poligami itupun terjadi. Walau semua rasa mendera jiwa, semua emosi bergejolak memenuhi rongga dada. Tapi, kemana lagi akan dilabuhkan?  Hati dan jiwa telah dipenuhi erosi perasaan hingga mengkikis sifat kemanusiaan yang ada. Itulah kehidupan yang dijalani Aibi. Tak terkira, tak terhingga perihnya. Sampai menusuk-nusuk ulu hati yang paling dalam.

Iklan

About the post

Uncategorized

3 Comments

Add yours →

  1. Lanjutan kisahnya ada neng ?

  2. Lanjutan kisahnya sudah saya postingkan. Silahkan dinikmati mas. semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: