Menelusuri Jejak Para Aktivis di STAIN Batusangkar

Dunia kampus merupakan gambaran dari miniatur sebuah Negara. Di kampus inilah kita akan bisa melihat bagaimana gambaran dari Negara ini kedepannya. Apakah akan lebih baik atau bagaimana. Berawal dari semenjak Orde Baru, maka kampus merupakan sasaran utama bagi pemerintahan. Bahkan mahasiswa menjadi suatu yang menakutkan bagi penguasa di Negara ini. Sehingga tidak mengherankan pada masa Orde Baru itu ada istilah hilang malam bagi segenap aktivis di kampus, tidak hanya para aktivis kampus yang hilang malam, namun beberapa dari aktivis lainnya yang dianggap membahayakan kedudukan pemerintah, maka akan mengalami nasib yang sama dengan para aktivis lainnya.

Kondisi yang sangat mengekang itu, membuat gerak langkah para aktivis terbatas dalam berbuat. Sehingga tidak jarang terkadang semua kegiatan yang menyangkut masalah aspirasi dan kritikan terhadap pemerintah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Jika tidak demikian, maka setiap kegiatan akan dikecam oleh pemerintah Negara. Dan orang-orang itu akan diculik pada malam harinya, dan tidak akan pernah kembali lagi. Seolah-olah hilang ditelan bumi. Namun walaupun demikian, ancaman itu tidak menyurutkan nyali sebagian dari para aktivis untuk berbicara. Bahkan ada diantara mereka yang semakin vocal dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, tanpa merasa gentar sedikitpun.  Tanpa merasa cemas sedikitpun. Karena bagi mereka, kebenaran harus di perjuangkan, walaupun nyawa tantangannya. Siapa lagi yang akan memperjuangkannya, jika bukan para mahasiswa? Karena mahasiswa yang notabenenya merupakan agent of change dan agent of social control dalam masyarakat. Maka semua itu menjadi tanggung jawab para aktivis.

Berkat kegigihan dan keberanan para aktivis itulah, sehingga mereka berhasil memperjuangkan hak rakyat yang tertindas, mereka berhasil merubah tatanan Negara yang semula sangat otoriter menjadi demokrasi. Mereka berhasil memperjuangkan reformasi di Negara Indonesia ini. Itulah segelintir dari perjuangan para aktivis pada tahun 90-an. Lalu bagaimana dengan gambaran aktivis saat ini? Khususnya di Batusangkar yang merupakan kota budaya yang kukuh memegang adat minangkabau. Yang memilliki falsafah nagari adat basabdi syarak, syarak basandi kitabullah. Bagaimanakah kegiatan para aktivis di negeri ini? Yakni di STAIN Batusangkar?

Beban studi yang padat dan tingkat kesulitan mata kuliah yang diambil menjadi alasan utama bagi mereka (Mahasiswa-red) untuk tidak peduli dengan kegiatan kemahasiswaan. Sehingga banyak organisasi mahasiswa baik yang intra kampus maupun ekstra kampus sepi kader. Hal itu membuat  sekre-sekre jarang pengunjung.

Keberadaan para aktivis di kampus STAIN ini antara ada  dan tiada. Dikatakan ada, namun pergerakan meraka baik di dalam maupun di luar tidak tampak. Namun jika dikatakan tidak ada, sekre-sekre banyak berjejeran di sepanjang lorong student centere lantai lima gedung lima tingkat STAIN Batusangkar. Lalu kemanakah perginya para aktivis itu? Bukankah sekarang merupakan zaman reformasi? Zaman kebebasan? Bebas untuk berpendapat dan bebas untuk bertindak? Namun kenapa kampus yang merupakan miniature sebuah Negara seperti tidak memiliki ruh pergerakan dari para aktivis kampus ?

Kegiatan yang terjadi dikampus hanya seputar kegiatan perkuliahan, di mulai jam 07.15 berakhir jam 16.00 kemudian kembali ke kos atau rumah masing-masing, syukur-syukur kalau berkutat dengan diktat perkuliahan, yang lebih parah dan menyedihkan lagi adalah ternyata sampai dirumah tidur sambil mendengkur. Tidak peduli dengan perkembangan dunia luar. Ternyata Study Oriented menjadi pilihan dan kegiatan yang paling digemari.

Namun ada lagi sebagian dari mahasiswa yang sejatinya merupakan orang-orang intelek menghabiskan waktu hanya di kafe saja. Mendengarkan musik, tertawa terbahak-bahak terkadang berperilaku seperti orang tidak terdidik, padahal mereka adalah mahasiswa yang merupakan lambang orang-orang cerdas. Lalu kemanakah perginya para aktivis itu? Sudah hilangkah ditelan bumi? Sudah habiskah dimakan zaman? Lalu siapa yang akan menjembatani antara rakyat kecil yang tertindas dengan para penguasa Negara ini? Siapa yang akan ditunggu jika bukan mahasiswa? Atau para aktivis kampus khususnya?

Negara sudah diporak porandakan oleh para penguasa itu, kebijakannya terkadang merugikan rakyat. Kekayaan Negara sudah habis mereka keruk, namun kenapa para aktivis itu masih diam? Masih sibuk tertawa? Masih sibuk berkutat dengan diktat-diktat perkuliahanya? Lalu siapa yang akan maju menggalang semangat? Bukankah mereka orang-orang cerdas? Tempat masyarakat bertanya? Aktivis seakan-akan sudah mati dan sudah tidak di gemari lagi. Bahkan sebutan aktivis sudah merupakan hal yang ganjil bagi mereka. Ketika ada beberapa orang yang mengadakan rapat dan berbicara tentang kebebasan, dengan wajah menolak dan senyuman mengejek mereka berlalu begitu saja. Bahkan sebutan aktivis bukan sesuatu yang akrab lagi ditelinga para mahasiswa di STAIN, namun merupakan sesuatu yang bermakna negative ditelinga mereka. Hal ini tidak dapat dipungkiri. Anggapan itu muncul karena ula para aktivis itu sendiri. Mereka bangga dengan gelar aktivis yang mereka sandang, kesibukan mereka dengan organisasi membuat mereka meremehkan kuliah yang menjadi tugas pokoknya sebagai mahasiswa. Sehingga sebutan aktivis menjadi suatu yang sangat menakutkan bagi mahasiswa pada umumnya. Sehingga mereka membenamkan diri hanya berkutat dengan diktat-diktat perkuliahan tanpa mau bergabung dengan organisasi manapun. Karena menjadi aktivis identik dengan tamat terlambat. Mapala ( Mahasiswa paling lama) menjadi sebutan yang paling pas bagi mereka. Karena berorganisasi membuat mereka rela tamat di undur.

Anggapan seperti inilah yang seharusnya dihapuskan dari paradikma berfikir mahasiswa ini semua. Karena menjadi aktivis bukan berarti harus menelantarkan kuliah. Seharusnya mereka dengan bengga mengatakan “kuliah OK organisa yes”. Jika para mahasiswa itu berkata seperti ini, maka aktivis tidak akan hilang dari peredaran mahasiswa. Karena sejatinya mahasiswa adalah para aktivis yang akan menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat. Karena mahasiswa yang merupakan kaum mudalah, yang akan memberikan ide-ide yang cemerlang terhadap kemajuan Negara ini.

Jika kita menapak tilasi perjalanan para aktivis dimasa perjungan kemerdekaan, maka kita akan temukan peran penting mahasiswa disana. Berkat pemikiran dan perjuangan dari para mahasiswa itulah, akhirnya Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Lalu, bagaimana dengan para mahasiswa hari ini? Apa yang telah mereka perjuangkan untuk Indonesia tercinta ini? Bahkan terkadang organisasi hanya dijadikan sebagai tempat untuk beradu ideology mereka . dan membanggakan organisasi masing-masing. Inilah kondisi yang sangat menyedihkan yang terjadi di STAIN Batusangkar.

Iklan

About the post

Uncategorized

2 Comments

Add yours →

  1. bnyak faktor sbnrnya yg mmbuat mhsiswa skrg sptnya cnderung apatis dn skeptis thd negri ini…walo gag semua!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: