Kritikan Atau Nasehat

Hari senin lalu, kami mengadakan rapat dalam rangka merapikan barisan dan merencanakan program yang luar biasa untuk generasi Rabbani yang ada penjara suci ini. Penjara suci? Ya ini adalah penjara suci kawan yang akan mengantarkan individu menjadi insan yang ahli Ibadah, berakhlakul Karimah, dan menjadi khalifah yang cerdas di permukaan bumi ini. Itulah tiga pilar pendidikan di penjara suci kami, diniyyah puteri Padang panjang.

Hari itu, seluruh ustadzah yang jumlahnya 23 orang hadir dengan semangat yang membara dan kesiapan yang mantap untuk membicarakan tentang anak-anak kami yang luar biasa, yang mempunyai mimpi setinggi bintang di langit, yang mempunyai rasa percaya diri sebesar gunung uhud akan keberhasilan mereka, karena masing-masing mereka sudah mempunyai life maping (peta kehidupan), sudah mempunyai perencanaan kehidupan untuk beberapa tahun kedepan.

Acarapun kami mulai dengan meruja’ah hafalan kami secara bersama-sama, kemudian baru dibuka dengan resmi atas perintah dari Ibu Kepala Asrama kami yang luar biasa. Terjadi sedikit tolak-tolakan tentang siapa yang akan memberikan tauji kepada kami pada rapat kali ini, karena ustadzah yang di tunjuk ternyata tidak mempunyai kesiapan tentang apa yang akan beliau sampaikan. Tiba-tiba di tengah tolak-tolakan seorang ustadzah mengangkat tangan dan bersuara. Biar ana  yang menyampaikan tauji akhwat. katanya dengan suara lembut tapi lantang.

Kami peserta rapat menunggu tauji yang di sampaikan, tapi subhanallah ternyata tauji yang ingin di sampaiakan oleh ukhty itu hanya tertuju kepada seorang peserta rapat saja. Entah ini tauji atau Nasehat atau kritikan atau entah apalah namanya, yang jelas judul tidak sesuai dengan isi. Ibarat kita membeli buku, judul bukunya adalah al-Qur’an tapi ternyata isinya injil. Seperti itulah rapat kami hari itu. Seharusnya rapat, akhirnya buka-bukaan, dan sayangnya hal itu hanya untuk satu orang saja. Apakah itu bisa dikatakan rapat, nasehat, kritikan atau malah menghakimi.

katanya dia menyampaikan itu untuk memperbaiki ukhuwah. AKankah ukhuwah menjadi baik, jika awal dari penyampaiannya dimulai dengan jastis dan hinaan terhadap seseorang? Sampai mempertanyakan keakhwatan seseoranga? dengan santai ukhty itu berkata, seorang yang tarbiyah dan terbina yang mengaku dirinya akhwat menyakiti seseorang seperti itu. Akhwatkah itu namanya? Akhwatkah? Lahaulah wala quataa… Sedikitpun dia tidak layak mempertanyakan hal itu. Apakah dia tau, bagaimana perjuangan ukhty tersebut untuk bisa menjadi akhwat, walau sebenarnya belum layak dikatakan sebagai akhwat seperti yang dikatakan oleh ukhty tersebut. Lima tahun dia jungkir balik berjuang untuk menjadi akhwat. dan hasil yang diperolehnya baru seperti yang mereka lihat . Lalu pantaskah kita mempertanyakan hal itu? Tidakkah mereka khawatir ukhty tersebut akan lari dan meninggalkan semuanya? Paling tidak hargai sedikit perubahan yang terjadi pada dirinya. Jika tidak bisa akan menambah.

terkadang kita sering tertipu dengan perbuatan kita. Perbuatan yang kita anggap baik dan akan membuahkan hasil yang baik, ternyata tidak lebih dari hanya sebuah tindakan yang mengakibatkan hati itu semakin jauh. Bagaimana tidak akan jauh, karena di sampaikan di depan umum. Terdanga hidup ini adalah mengenai sebuah cara. Kita harus tau kawan, bahwa sesalah apapun seseorang dan ketika kesalahannya di sampaikan di depan umum, mungkin disana ada adiknya, kakaknya, teman dekatnya, orang tuanya, bahkan mungkin di sana ada orang yang paling berarti baginya, kemudian kita menyampaikan kesalahan yang di lakukannya tanpa tuding aling-aling ditambah lagi dengan gaya bahasa yang brutal, maukah kira-kira dia mengakuinya? menurut hemat saya, sesalah apapun dia jika disampaikan seperti itu, sekuat tenaga dia akan melawan dan akan akan mencari cara untuk menjatuhkan lawan bicaranya. Jangan salahkan seseorang yang berbuat jahat kepada kita, karena kita memberikan kesempatan dan peluang kepadanya untuk melakukan kejahatan terhadap diri kita. Sampai kapanpun dia akan ingat akan hal itu. Dan tujuan untuk menyampaikan masalah itu adalah untuk merekatkan ukhuwah, tanpa kita sadari, justru itulah yang akan mengikis ukhuwah diantara kita. 

kawan, hati-hati dengan kritikan, hati-hati dengan nasehat, saling sehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran adalah perintah agama, tapi perluh kita ketahui hal itu tidak di barengi dengan hujatan dan hinaan. Rasulullah tidak pernah mencontohkan hal itu. Rasul selalu menyampaikan nasehatnya kepada para sahabat dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Begitu juga dengan kritika, bukan berarti tidak boleh menyampaikannya, silahkan sampaikan tapi dengan cara yang ahsan, dan ketika sudah diklarifikasi, maka kewajiban kita adalah membersihkan kembali nama saudara kita. Jangan sampai kita hanya melihat kesalahan orang lain saja, dan menutup diri terhadap kesalahan yang kita perbuat. sehingga kita bersikeras mengatakan dialah yang salah. Tidak mungkin ada asab, jika tidak ada api bukan? Tidak mungkin ada yang salah, jika tidak ada yang memulainya.

Kawan, terkadang dalam hidup ini, kita dinasehati oleh kata-kata kita sendiri. Bisa jadi nasehat atau kritikan yang kita sampaikan adalah untuk orang lain hari ini, tapi esok dengan sendirinya nasehat dan kritikan itu akan di tujukan kepada diri kita sendiri. Seperti itulah Allah menasehati kita, melalui apa yang kita katakan. Begitulah Allah mengajari kita, melalui apa yang kita lakukan. 

Iklan

About the post

Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: