Cinta Tak Tergantikan

Kaki-kaki telanjang itu, terus menelusuri padang pasir yang tandus dan gersang yang membakar kulit tubuh. Mereka sama sekali tidak peduli dengan panasnya udara padang pasir yang memanggang kulit mereka yang menjadi hitam dan legam. Bahkan satu, dua di antara mereka sudah mulai kelelahan. Korban-korban berjatuhan karena sudah tidak sanggup lagi menahan panasnya gurun sahara yang luas, yang suhunya hampir mendekati 47 derajat celcius. Perjalanan itu masih panjang, dan masih melelahkan. Dan mereka sudah tidak sanggup lagi,untuk menahannya. Andaikan perintah itu bukan datang dari manusia yang paling dikaguminya dan paling disayangnya, niscaya mereka tidak akan mau melakukan perjalanan gila ini. Apalagi di puncak musim panas seperti ini. Karena semuanya sangat beresiko. Mereka bisa mati kepanasan dan kekeringan. Tapi mereka sudah tidak punya pilihan lagi. Itu adalah perintah di atas perintah. Walaupun harus mati di tengah jalan, walaupun mereka harus melawan panasnya terik matahari di tengah padang pasir yang tandus mereka harus tetap melakukannya. Demi satu tujuan, menyelamatkan selembar iman yang telah dititipkan ke dalam hati mereka.
Sungguh, betapa tidak kuasanya hati mereka meninggalkan laki-laki kharismatik nan lembut itu. Mereka semua telah bertekad di dalam hati akan selalu membersamainya, apapun yang terjadi. Mereka tidak peduli dengan penyiksaan yang mereka alami, asalkan mereka tetap bersama laki-laki sederhana itu. Bercucuran air mata ketika mereka akan meninggalkan lelaki perkasa itu. Tapi semuanya telah di atur sedemikian rupa. Dan lelaki perkasa yang luar biasa itu berjanji kepada mereka akan menyusul mereka secepatnya. Pelukan-pelukan harupun terjadi, ketakutan untuk tidak berjumpa lagi memenuhi ruang hati. Tapi lihatlah, lihatlah tatapan matanya yang teduh telah mendamaikan hati orang-orang yang melihatnya. Telah menghidupkan keberanian yang membaja di hati mereka. Mereka yakin, ini adalah jalan yang terbaik.
Berhari-hari sudah mereka menempuh gurun sahara yang tandus, korbanpun semakin banyak berjatuhan, bekal perjalanan yang tidak seberapa itupun semakin hari semakin menipis, sementara tempat tujuan mereka masih jauh. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan padang pasir yang luas. Tidak mereka temukan sedikitpun tanda-tanda perkampungan yang menjadi tujuan mereka. Satu, dua sudah mulai tidak sabaran lagi dan mereka selalu bertanya, “masih jauhkah lagi? Berapa lamakah lagi kita akan melintasi gurun yang tandus ini?” Pertanyan-pertanyaan itu terus menggemah melelehkan hati. Belum lagi suara rintih kehausan. “ Haus… Haus… Haus… Wahai saudaraku, aku haus, adakah sumur di sekitar sini? Aku haus. Aku dahaga.. Aku sudah tidak kuat lagi untuk melangkahkan kakiku.” semuanya menyayat hati.
Pemimpin kabilah mereka yang ditunjuk oleh lelaki sempurna nan mengagumkan itu dengan sabar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang memilukan dan meyayat hati. “Istirahatlah kalian di bawah batu yang teduh yangmengarah ke barat, saya akan mencoba mencari sesuatu yang bisa untuk mengganjal perut kita”. Dia berkata dengan bijak. Padahal dia sendiri berada dipuncak kedahagaan yang teramat sangat. Tapi tidak mungkin dia juga harus mengeluh, demi cintanya kepada laki-laki sempurna yang telah diikrarkannya sebelum dia berangkat mengarungi lautan pasir ini. Maka ditahannya dahaga itu sekuat yang ia mampu, di seretnya kakinya pelan-pelan berjalan tanpa arah. Di kejauhan dia melihat air yang menggenang, dia berlari sekuat tenaganya untuk mencapai air itu. Berkali-kali tubuhnya limbung dan berguling-guling di hamparan pasir yang panas, namun dia berdiri kembali. Dia harus sampai pada air yang tergenang itu. Tapi begitu dia sampai disana yang didapatinya bukan air, yang di dapatinya bukan genangan air, tapi hamparan padang pasir yang luas. Ternyata itu hanya fatamorgana belaka. Dia melihat sekeliling yang kelihatan adalah padang pasir yang berbukit-bukit. Dia tersungkur dan menangis menyeruh Tuhannya. “Ya Tuhanku, apa yang harus aku lakukan, mereka kehausan, dan akupun juga kehausan. Ya Allah, masih jauhkah tempat yang Engkau janjikan itu, kaki ini sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah Allah. Kuatkan kami, agar sampai di tempat yang Engkau janjikan itu”.
Berjam-jam dia berjalan mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya dan rombongan yang ada dibawah tanggung jawabnya, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dia kembali kerombongan dengan tangan hampa.
****
Sementara jauh disebuah perkampungan yang asri, penduduknya mulai khawatir menunggu kedatangan mereka. Seharusnya mereka rombongan pertama itu sudah sampai semenjak siang tadi tapi sampai detik ini, dan matahari hampir memasuki peraduannya belum juga kelihan tanda-tanda mereka akan sampai. Padahal mereka sudah menunggu kedatangannya di batas kota ini semenjak kemaren sore. Apa yang terjadi? Kenapa rombongan itu belum juga sampai? Kecemasan menghantui mereka.
Lihatlah, garis kecemasan itu terlihat jelas di wajah mereka. Mareka takut terjadi sesuatu yang buruk dengan rombongan saudara-saudara mereka yang teraniaya. Apakah perjalanan mereka diketahi oleh orang-orang Quraisy laknatullah itu? Jika hal itu benar, habislah mereka. Air matanya bercucuran memikirkan kemungkinan terburuk itu. Tidak, pasti mereka baik-baik saja. Dengan keberanian membaja, dinaikinya kendaraannya, disongsongnya keberadaan saudaranya di tengah padang pasir yang tandus. Dan alangkah bahagianya hatinya, tatkala dilihatnya saudaranya berjalan patah-patah menujunya. Seketika itu juga dia turun dari ontanya, dan mempersilahkan mereka untuk naik ke atas kendarannya, biarlah dia yang berjalan dan menuntun onta itu sampai memasuki kota.
Kehidupan baru yang menentramkan telah menghampiri rombongan pertama yang jumlahnya tidak seberapa itu. Mereka telah menjalani kembali kehidupan mereka dengan normal. Namun mereka tetap tidak tenang, karena manusia yang paling di cintainya belum juga sampai. Mereka mengkhawatirkan lelaki luar biasa itu. Bagaimanalah kabarnya hari ini? Adakah dia baik-baik saja? Mereka semua risau memikirkan lelaki luar biasa itu.
Lelaki yang telah mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya, lelaki yang selalu menangis ketika mengingat Allah. Walaupun mereka selama ini hidup disiksa, tapi entah kenapa sedikitpun mereka tidak keberatan asalkan masih bersama dengan manusia mulia itu. Sejengkalpun mereka tidak ingin jauh dari pribadi yang mengagumkan itu. Mereka rela mengorbankan apa saja untuknya. Karena cinta yang tumbuh di dalam hati mereka adalah cinta yang telah mendarah daging. Cinta yang bersumber dari sang pemilik cinta. Cinta yang takkan tergantikan sampai kapanpun. Cinta yang selalu ada, walau jasad ini telah tiada. Sungguh, mereka akan melakukan apapun jika orang-orang laknatullah itu berani berbuat macam-macam kepada orang yang mereka cinta itu.
****
Tak lama setelah mereka sampai, saudara-saudara mereka yang lainpun menyusul, perasaannya membuncah, berharap pertemuan yang mengharukan dengan manusia pilihan yang mereka rindukan. Hati mereka telah rindu melihat tatapan hangatnya. Rindu mendengarkan kata-kata bijaknya yang memiliki kekuatan ruhiyah yang tinggi. Tapi begitu mereka menyibak rombongan yang yang baru datang dan memasuki kota, mereka tidak menemukan orang yang mereka rindukan ditengah-tengah rombongan. “Dia belum datang wahai saudaraku. Dia belum bisa keluar dari sana. Orang-orang laknatullah itu masih mengepungnya di rumahnya. Bahkan dia tidak bisa keluar sedikitpun. Setiap pintu di rumah itu mereka jaga. Ketika kami akan berangkat kesini, dengan susah payah dia berusaha keluar dari rumah. Sampai tengah malam kami menunggu beliau di tempat persembunyian, mendekati waktu subuh baru beliau bisa keluar dari rumah. Tak banyak yang beliau sampaikan kepada kami, dengan bercucuran air mata beliau berkata kepada kami. “Bersabarlah… Bersabarlah wahai kaumku, kehidupan yang lebih baik tengah menunggu kita. Jika kalian telah sampai disana, sampaikan salamku kepada pemuka anshor. Sampaikan terima kasihku kepadanya, karena mereka telah mau menampung kita disana”. Wahai saudaraku, sejatinya kami tidak sanggup meninggalkan beliau. Kami ingin membersamai beliau sampai kapanpun”.
Rombongan kedua itupun bercerita dengan bercucuran air mata. Mereka saling berpelukan dan berdo’a, semoga mereka diberikan kesabaran dan cepat berkumpul dengan manusia yang teramat mereka cintai itu.
****
Kesempurnaan akhlaknya, kehalusan budinya, dan kesantunan sikapnya telah membuat semua orang segan kepadanya, baik kawan maupun lawan. Bahkan dengan kesantunan budinya itu jugalah, telah membuat banyak orang berani untuk berikrar akan mengorbankan jiwa maupu harta demi kehormatannya yang mulia. Itulah bukti cinta terbesar umatnya kepadanya. Bahkan setelah berabad-abad jarak yang memisahkan antara beliau dan ummatnya saat ini, cinta itu tetap ada dan membaja di dada para ummatnya untuk terus mengikuti jejaknya yang mulia. Cinta itu terus membara dan akan terus hidup sampai kapanpun, walau jasad ini telah tiada.
Cinta yang tak terbantahkan yang beliau persembahkan untuk mereka, telah membuat mereka menjadi manusia-manusia perkasa yang siap menghunus pedang dan menjunjung tinggi nillai kebenaran demi tegaknya kalimat Laa Ilaa Ha Illah di permukan bumi ini.
Semburat merah saga itu terus memancar di langit kota Madinah, yang menjadi saksi atas perjuangan manusia luar biasa bersama orang-orang yang rela menukar nyawanya demi kemulian islam yang mulia, janji kehidupan yang lebih baikpun semakin nyata di pelupuk mata para tentara Allah itu. Lihatlah… Satu persatu musuh-musuh Allah itu telah mereka pukul mundur, bahkan sudah tidak berani lagi untuk menyeberangi perbatasan kota mereka. Itu semua karena cinta yang mendarah daging kepada Allah dan Rasulnya yang mulia. Yang telah mengajarkan arti keikhlasan dan ketulusan dalam membelah syari’atnya. Islam akan selalu berjaya sampai kapanpu, sampai akhir zamanpun islam akan berjaya ditangan mereka, yang memiliki cinta seluas samudera sebening tetesan-tetesan embun di musim kemarau.

Iklan

About the post

Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: