Mamak Kampuang

”Bujang, umur ang sekarang telah mendekati 25, kapan ang akan menikah? Amak rindu menimang cucu dari anak laki-laki Amak. Kalau wa ang belum juga menikah, suara ang tidak akan di dengar di tengah kaum, sehebat dan setinggi apapun ilmu wa ang”.
”Mak, siapa yang akan mau memberikan anak gadisnya kepada Ambo? Ambo bujang miskin Mak. Ambo belum mendapat kerjaan. Kuliah saja baru kemaren tamat. Lagi pula Ambo belum terlihat terlalu tua-kan Mak? Anak laki-laki tidak apa kalau menikah agak berumur sedikit”.
”Waang sama dengan Apak ang, ada saja jawaban dari ang”.
Amak Baya terkekeh mendengar jawaban anak bujangnya yang sangat dibanggakannya itu. Baru sebulan yang lalu, anak bujangnya itu menamatkan pendidikan S2nya di sebuah Universitas ternama di negeri ini. Sebenarnya Rahman, anak bujangnya itu, tengah menunggu panggilan kerja dari perusahaan perindustrian alat berat di kota Bandung, tapi karena Amak Baya sangat rindu akan anak bujangnya, maka anak bujang semata wayangnya itu di suruhnya pulang. Lagi pula Mak Baya sudah terlalu berumur, dia takut kalau-kalau dia tidak sempat menjelaskan tentang segala sesuatu perkara yang harus di ketahui oleh anak bujangnya. Karena walau bagaimanpun, Rahman adalah ayam gadang bataji gadang di rumahnya. Rahmanlah anak laki-laki satu-satunya yang dimilikinya. Yang akan menjadi mamak di rumahnya, yang akan menyelesaikan segala persengketaan adat di tumbinya.
Kalau nyampang terjadi hal-hal yang tidak diinginan oleh Mak Baya, paling tidak dia sudah katakan kepada anak bujangnya Rahman, bahwa gelar sako itu, adalah hak Rahman anaknya. Dan gelar itu sudah saatnya di ambil kembali. Kamaren itu, terpaksa gelar sako diserahkan kepada Datuak Pangga, kemenakan jauh dari mak Baya, karena ketika itu memang dialah yang lebih berhak untuk menerima gelar sako itu, karena dia telah menikah dan dipandang layak untuk memangku gelar sako. Sementara Rahman baru kelas 3 SMP, ketika kakak Mam Baya, Mak Datuk Rajo Malayu meninggal. Tapi hari ini, sudah saatnya gelar itu di kembalikan kepada anaknya Rahman. Memang seperti itu perjanjiannya, bukan?
Saking terkekehnya, sampai Mak Baya mengeluarkan air mata dibuatnya. Tangannya sibuk menggulung rokok daun nipah, yang di tengahnya di beri tembakau. Kepalanya menggeleng-geleng. Sementara Rahman, hanya duduk tersenyum melihat Amaknya yang terkekeh itu.
****
”Jang, besok pagi-pagi kukuk ayam, amak mau mengajak waang ke parak awak yang di Limbonang itu. Siap subuh, waang langsung berkemas, ya? Biar waang tau, mana batas tanah kita, dan yang mana-mana saja sawah peninggalan nenek moyang ang, dan sawah peninggalan Apak ang. Tidak ada orang yang akan mengelolahnya, selain waang seorang, karena hanya waang mamak rumah yang tersisa di tumbi kita ini”.
”Insya Allah Mak”.
Mak Baya masih sibuk menggulang rokok nipah yang ada dalam kantong plastik sembari memasukkan tembakau yang di ambilnya dari tabung minyak lavender. Sementara disebelahnya, masih ada rokok nipah sebesar bebatan paha yang akan di gulung-gulungnya. Rahman menggeleng-geleng kepala melihat kebiasaan Amaknya yang tak pernah berubah. Setahunya, tidak pernah dia melihat amaknya berhenti menghisab rokok daun nipah itu. Apalagi kalau ada Apaknya, Amak Baya seperti berlomba dengan Apaknya menghabiskan rokok daun nipah itu. Beruntunglah Rahman, dia tidak ikut kecanduan menghisapnya. Pernah dulu sekali, dia mencoba menghisapnya waktu dia sunat rasul, untuk menghilangkan rasa sakit kata Mak Baya harus merokok, maka disuruhnya Bapaknya untuk memberikan rokok daun nipah kepada Rahman, apapula coba hubungannya dengan menghilangkan rasa sakit, yang ada justru mengajarkan anak untuk merasakan nikmatnya merokok di usia dini. Karena dia tidak terbiasa menghisabnya, dia malah pusing dibuatnya. Semenjak itu, dia tidak mau lagi menyentuh barang-banrang seperti itu.
****
Amak Baya memang sudah berumur, umurnya kita-kira sudah mendekati 67 tahun, tapi dia tidak pernah tahu, entah tahun berapa dia di lahirkan. Waktu Rahman SD dulu, ketika belajar IPS, tentang keluarga. Dan siswa diberikan tugas untuk membuat data-data keluarga lengkap dengan tanggal dan tahun lahir orang tua. Maka Rahman bertanya kepada Mak Baya, tapi jawabannya ngaur ketika itu…
”Entahlah Jang, entah kapan amak di lahirkan. Ketika perang paderi berkecamuk di Sumatera Barat ini, amak sudah berumur kira-kira 5 tahunan. Masih ingat amak, ketika pergi main keluar hanya pakai celana kotok saja saat itu. Amak di Jolang uwo di punggungnya”.
Lain lagi ketika dia Tamat SD, dan gurunya meminta data-data lengkap Rahman, dan Rahmanpun bertanya kepada Mak Baya tanggal berapa dan tahun berapa dia tepatnya di lahirkan. Karena itu akan menjadi datanya di Ijazah. Tapi jawabannya tetap tidak memuaskan.
”Waang tu lahir, petang kamis, jam 7 malam, tahun 1985. tanggal sama bulannya, mak lupa. Waang, kalau Mak tidak salah lahir bulan Rajab”. Akhirnya tanggal lahir dan bulan lahir Rahman hanya di perkirakan saja. Tidak pernah tau kapan pastinya.
****
Pagi-pagi sekali sebelum Azdan berkumandang dari surau di samping rumah gadang nan bagonjong, Mak baya telah terbangun dari tidurnya, dan dia turun dari anjuang paranginannya. Dia telah sibuk di dapur menjerang air untuk menyeduh kopi. Karena selain mak Baya suka merokok, juga hobi menyeruput kopi di pagi hari. Berkali-kali telah di ingatkan Rahman, ngopi itu tidak bagus untuk kesehatan, nanti sakit pinggang. Tapi dengan enteng Mak Baya menjawab
”Uwo ija, tidak minum kopi tapi sakit pinggang jugakan”. Katanya sembari menyeruput kopinya. Belum lagi, kalau Mak Baya minum kopi, tanpa gula. Benar-benar kopi yang diminumnya. Kopi pahit. Begitu juga ketika Rahman mengatakan, tentang menghirup rokok, karena nafas Mak Baya sudah naik turun, berbicara sedikit saja nafasnya sudah sesak, dan kalau batuk, lama baru berhenti. Tapi apa jawabnya, jawaban Mak Bayapun nyeleneh ”Kambing tidak merokok batuk jugakan?”. Kalau sudah begini, Rahman tidak bisa berkata lagi. Pernah ketika Rahman pulang semesteran, dia bawakan Mak Baya ole-ole kopi Radiks beberapa kotak, dan di katakan kepada Amaknya, Kopi Radiks dapat menewar racun, tapi karena lidah Mak Baya sudah terbiasa memnyeruput kopi pahit, membuatnya tidak enakan meminum kopi Radiks. Akhirnya kopi itu disuruh lagi membawanya ke Bandung.
Begitu azdan pertama terdengar menyapa semua yang sedang tertidur, Rahman telah rapi dengan baju koko dan sarung wadimornya, dan topi putih bulat tertengger di kepalanya yang bulat. Mak Baya sering mengatakan kepadanya, ”waang kuliah di teknik, tapi gaya ang seperti Pak Buya”.
****
”Jang, ini batas tanah pusaka kita Jang. Yang sebelah barat itu, itu tanah sidi Mantra, yang timur itu, tanah Tek Raya, sebelah selatan, itu pandam pekuburan umum, dan bagian utara itu, tanah milik Angku kali”.
”Tanah seluas ini, Ambo yang akan mengelolahnya Mak?”. tanya Rahman tidak percaya. Terbayang ijazah S2nya yang telah susah payah didapatkannya. Dan hari ini dia harus menjadi mamak kampung, dan mengurus segala tetek bengek persengketaan adat. Lalu untuk apa ijazah S2nya itu? Dia ingin menjadi seorang direktur sebuah perusahaan. Bukan seorang mamak kampung yang hanya sibuk memikirkan anak kemenakan.
Matanya berair, dia paham apa yang diinginkan Mak Baya untuknya. Dia mengerti, kenapa Mak Baya menyuruhnya cepat-cepat pulang begitu S2nya selesai. Rahman diam tertunduk. Hatinya dipenuhi sejuta tanya. Perasaannya gunda, bagaimanalah dia akan membicarakan hal ini dengan mak Baya. Dia ingin berkarir di rantau orang. Bukan dia tidak cinta akan kampungnya, tapi apa yang bisa dilakukannya di kampungnya ini? Semuanya serba sulit.
Mak Baya terus mencerocos memberitahukan berapa luas tanah itu. Suratnya atas nama siapa, dan menjelaskan berpuluh petak sawah yang juga milik pusakannya, dan juga harus dikelolah oleh Rahman. Tapi Rahman juga telah larut dengan perasaannya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang akan dikatakannya kepada Amaknya, Mak Baya. Dia tahu betul tabiat Mak Baya, kalau sudah berkata seperti itu, sulit baginya untuk memasukinya lagi. Tapi tidak mungkin dia menerima semua apa yang disampaikan Amaknya begitu saja. Dia punya kehidupan sendiri, bukan?
****
Puas Mak Baya bercerita tentang batas-batas tanah pusaka dan petak-petak sawah yang dimiliki oleh tumbinya, maka dia menyeruput kopi pahit yang ada di dalam botol aqua kecil. Hidungnya basah oleh peluh, nafasnya turun naik. Rahmanpun sudah begitu letihnya, karena begitu luas tanah yang dikitari dan begitu banyak petak sawah yang dilalui. Dia mengibas-ngibaskan caping lebar yang tadi tertengger di kepalanya. Dia berfikir keras, bagaimana caranya dia mengatakan kepada Mak Baya, kalau sebulan lagi dia harus pergi ke Bandung dan bekerja di sebuah perusahaan perindustrian alat berat di sana. Tidak mungkin dia merusak semua rencana-rencana amak. Apalagi semua rencana itu telah disiapkannya jauh-jauh hari. Sudah cukup kesabaran Amak selama ini menunggunya besar. Karena di Minang tidak berarti apa-apa rumahnya, jika tidak ada mamak kontan di dalamnya. Dan dia adalah mamak kontan di tumbinya. Yang akan menyelesaikan segala permasalahan kemenakannya.
Belum lagi gelar sako yang harus dipangkunya. Karena gelar itu memang teruntuk untuknya. Masih segar dalam ingatannya, ketika kakak Amak, Mak Datuak Rajo Malayu akan meninggal, dia dipanggil dan bersalin baju kepadanya. Tapi karena dia ketika itu masih terlalu kecil, maka gelar sako itu ditumpangkan ke Mak Datuak Pangga menjelang dia sudah baligh dan berakal. Dan hari ini, setelah sekian tahun Mak Baya menunggunya dengan sabar, begitu juga dengan orang-orang sekaumnya, tidak mungkin dia menolak semua itu. Tapi dia juga terikat kontrak dengan perusahaan yang di Bandung itu. Tidak mungkin dia menyuruh Mak Baya dan kaumnya untuk bersabar lagi menunggu, yang kali ini tidak tahu akan sampai berapa tahun kaumnya akan menunggu. Karena dia terikat kontrak seumur hidup dengan perusahaan di Bandung itu. Bagaimanalah ini? Rahman menelan air ludahnya. Dia tidak menyangka akan sepelik ini jadinya. Dia tidak menyangka, kalau gelar sako itu begitu penting di adat nagarinya.

Iklan

About the post

Cerpen Mamak Kampuang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: