Novel Aibi #1

1
Duka Yang Meluruh
Taman bunga itu begitu luas dan asri. Mawarnya sedang bermekaran. Bau semerbak merangsang indra penciuman, memberikan kedamaian di dalam hati. Sepasang kupu-kupu yang sedang pacaran berkejar-kejaran dan berayun dari tangkai bunga satu ke tangkai bunga yang lainnya. Setiap kali dia hinggap dibawanya serbuk sari yang menempel di kakinya lalu di tempelkannya ke kepala putik bunga betina untuk membantu proses penyerbukan agar bisa menghasilkan buah yang ranum dan segar.
Hidup seperti simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Walau berbeda jenis tetapi mempunyai satu misi yakni melestarikan alam semesta untuk di wariskan kepada para generasi penerus. Terik mentari pagi yang bersinar hangatkan bumi. Ia peluk erat penduduk bumi dan disebarkannya sejuta kebahagiaan dan kasih.
Di tengah-tengah taman yang asri dan di temani dua kupu-kupu yang sedang berkejar-kejaran bermandikan sinar mentari pagi, seorang gadis muda tengah duduk di atas kursi roda. Sendiri. Sepintas dia terlihat tengah menikmati kebun mawar yang sedang bermekaran dan menghadirkan bau khas yang semerbak. Tetapi sejatinya mata itu tengah memandang jauh kedepan, menembus tembok kehidupan, menjelajahi hutan belantara pemikiran, mampir di sudut reot hati yang mulai jarang dikunjungi.
Nun jauh disana terlihat potret dirinya yang mulai mengabur berbentuk foto hitam putih. Padahal kehidupan itu dilaluinya dengan warna warni. Lalu, kemana perginya warna biru itu? warna yang selama bertahun-tahun menjadi warna kesukaannya. Kemana perginya warna merah jingga itu? yang menjadi pemandangan yang menyejukkan matanya kala sore datang menjelang. Kemana semua warna yang cemerlang itu? warna mejikuhibiniu yang selalu membuat matanya takjub ketika memandangnya. Karena disana ada bukti kemaha indahan Tuhan sang pencipta alam semesta. Kemana warna itu? kenapa yang tersisa saat ini hanya warna hitam dan putih saja?
Kata orang setiap selesai gerimis dan hujan akan muncul pelangi akibat pantulan dari spektrum sinar matahari, sehingga terbentuklah warna pelangi yang menyejukkan mata. Tapi kenapa hari ini pelangi itu tidak lagi muncul? Bukankah sudah bertahun-tahun ia melalui hari penuh gerimis dan hujan air mata?
Sudah terlalu banyak air mata yang keluar, dan pagi ini air mata itu keluar lagi. Satu persatu butiran-butiran kristal itu berjatuhan membasahi pipinya, terus mengalir ke dagunya sehingga menyentuh syal yang terlilit di lehernya yang jenjang dan mengendap disana membentuk pulau-pulau kecil. Sudah terlalu banyak butiran-butiran yang mengandung muatan garam itu mengalir dan bercucuran dari matanya. Lima tahun berlalu, kapankah butiran hangat itu akan berhenti mengalir dari matanya yang sudah nanar dan mengabur itu? Atau kehidupan yang dijalaninya ini akan selalu di temani oleh butiran-butiran itu? Ah… Semuanya terasa semakin menyesakkan dada.
Perlahan ia coba menyeka air mata yang jatuh dengan kedua telapak tangannya. Namun semakin dia menghapusnya air mata itu semakin deras mengalir. Akhirnya tubuh lemah tak berdaya itu terguncang menahan isak.
Sudahlah, betapa dia ingin berdamai saja dengan masa lalunya. Dia lelah bertengkar dengan hati dan pikirannya yang masing-masingnya tidak mau saling mengalah. Betapa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Walau terasa pahit, tapi inilah kenyataan. Dia memang tidak akan pernah beranjak lagi dari kursi roda ini. Sampai kapanpun dia hanya akan terduduk pasrah di atas kursi pesakitan ini. Di telannya air liurnya yang terasa kering di kerongkongan.
Semuanya terasa begitu menyesakkan dada. Dia belum siap lahir bathin menghadapinya. Tapi sampai kapan harus bersikukuh dengan kediamannya? Sampai kapan dia menolak semua ini? Apa yang dilakukannya saat ini, toh tidak akan mengembalikannya kepada keadaan semula. Dia harus ikhlas. Tapi, bisakah dia ikhlas? Bukankah ikhlas itu adalah sesuatu yang sangat sulit?

2
Rapat Terakhir
Alam selalu punya bahasanya sendiri dalam mengagungkan asma-Nya. Semuanya khusyuk berzikir tak henti-hentinya. Semuanya sibuk beribadah kepada Allah. Matahari berzikir dengan caranya yang tidak dimengerti oleh para hamba. Begitu juga bintang dan rembulan yang selalu tunduk dan memujaNya penuh cinta. Pagi selalu menawarkan kesejukan yang menenangkan jiwa. Embun menetes lembut membasahi dedaunan. Suasana subuh semakin terasa indah dan menyejukkan kala bau udara pagi menyentuh hidung. Pertanda manusia-manusia di bumi akan memulai aktivitasnya setelah terlelap dalam mimpi yang indah. Remang-remang warna subuh mulai memudar. Tampak di sana maha sempurna penciptaanNya. Fajar merekah di langit.
Para pedagang mulai menyiapkan dagangannya yang akan di jajakan dari rumah-ke rumah di pagi hari yang masih temaram. Dari kejauhan terdengar suara lengkingan tukang gorengan. Sekali-kali suaranya yang cempreng di tingkahi oleh penjual ketan panas.
Pagi ini, semua kebahagian telah memenuhi rongga dada. Setelah berjuang mati-matian, akhirnya semuanya akan segera berakhir dan perjuangan baru akan kembali dimulai. Jepang telah menunggu kehadirannya. Dengan wajah penuh sumringah Aibi berdiri di depan kaca, diamatinya setiap lekuk wajahnya. Tiba-tiba bayangan orang tuanya hadir di sana. Kerinduannya tak tertahankan lagi. Sore ini Papa dan Mamanya tercinta akan tiba di Padang. Mereka berangkat dari Jakarta pukul 16.00 sore. Tentu ia sendiri yang langsung menjemput orang tuanya.
Kebahagian itu tidak terhenti sampai di sana. Ada empat prestasi yang di raihnya tahun ini di akhir keberadaannya di kampus. Aibi digelari mahasiswa terpintar dan tercerdas yang dimiliki kampus semenjak tempat perkuliahan itu berdiri. Ia juga mendapatkan gelar best student award. Ia berhasil mengalahkan para kontestan lain. Disamping itu ia mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa organisatoris yang berprestasi dari University of Australia. Puncaknya ia meraih beasiswa penuh ke Jepang untuk melanjutkan S2. Semua biayanya ditanggung oleh pemerintah. Lengkap sudah kebahagiannya. Dari 3525 orang yang akan di wisuda, hanya dia yang mampu meraih sederet prestasi membanggakan tersebut.
Alasan apalagi yang membuat Aibi tidak bersyukur? Semua anugerah telah didapatkannya. Semua yang diimpikan banyak orang telah diraihnya. Ia terlahir dari anak orang kaya yang begitu menyayanginya. Semua kebutuhannya dicukupi baik diminta atau pun tidak. Terlahir sebagai orang pintar yang dibanggakan oleh setiap orang yang mengenalnya. Terlahir sebagai seorang wanita yang anggun dan kecantikan yang menawan hati siapa saja yang melihatnya. Kehadirannya selalu dirindukan. NikmatNya sungguh begitu berlimpah.
Hidup rasanya kurang bermakna ketika tidak melihat senyum Aibi yang merekah dan juga semangatnya yang menyala-nyala. Hampa rasanya ketika sosok itu tidak turut serta dalam rapat-rapat FSI karena biasanya Aibilah yang selalu mempunyai banyak ide-ide kreatif dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
Aibi berbeda dengan kebanyakan kader dakwah lainnya. Ia tak segan-segan bergaul dengan siapapun. Bisa dikatakan ia tidak menjaga jarak dengan mahasiswa diluar forum. Meskipun begitu ia tetap menjaga adab-adab ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Ia begitu santun dan sangat dekat dengan siapa saja mulai dari mahasiswa, dosen dan pegawai yang ada di kampusnya. Bahkan namanya tak asing lagi bagi petugas kebersihan atau penjaja makanan di kampus. Contohnya uni Vina, petugas cleaning service gedung D itu. Sebagai aktivis dakwah, Aibi dan teman-temannya selalu memakai gedung ini tiap minggunya untuk rapat. Ketika rapat sudah selesai ruangan tersebut bisa dipastikan kembali seperti sedia kala. Tidak ada sampah yang berserakan. Sebab, Aibi lah yang paling rewel mengingatkan teman-temannya untuk menjaga kebersihan. Saking baiknya terkadang ia membawakan makanan dan menyerahkannya kepada petugas kebersihan tersebut.
Tak hanya uni Vina. One Eli yang biasanya menjual makanan di gedung D juga sering menyebut-nyebut namanya dikarenakan sering sekali Aibi memberikan uang berlebih setelah berbelanja disana. Ia selalu menolak kembalian uang dari wanita paruh baya itu. One Eli sebetulnya tidak enak. Tapi Aibi tetap bersikukuh dengan keputusannya tersebut. Ia sepertinya juga prihatin dengan nasib para penjaja makanan. Mengingat sudah sering sekali mereka diperlakukan dengan semena-mena oleh birokrat kampus. Kampus melarang mereka berjualan di gedung perkuliahan dengan alasan akan mengganggu proses belajar mengajar. Padahal, tak ada lagi tempat lain bagi mahasiswa untuk mengisi perut atau sekedar menikmati bakwan dan goreng pisang. Aibi lah orang yang paling lantang menyuarakan hak-hak mereka kepada petinggi kampus. Ia menyadari betul apa yang dirasakan amak-amak tersebut.
Uda Ujang, petugas security kampus juga mengenali Aibi. Hal ini tak mengherankan mengingat Aibi suka berkenalan dengan siapa saja. Ia akrab dan juga suka menyapa. Prof. Khairul, salah seorang dosen pernah berkata: keteladanan telah berkumpul dalam diri Aibi
Semua orang merindukan Aibi. Setiap mulut tidak pernah berhenti menyebut tentang pribadi yang menawan hati. Luar biasa pribadi dan kekuatan ruhiyah yang dimilikinya. Cahaya kesholehahan itu terpancar indah di wajahnya, sehingga menambah cantik wajahnya yang memang sudah cantik.
***
Jum’at pagi ini masih ada rapat yang akan dipimpinnya. Rapat terakhir sebelum dia pergi meninggalkan kota Padang. Kemaren Mala menghubunginya. Kata sahabatnya itu “kalau ada waktu tolong hadir rapat hari ini jam 09.00 di mushola Fakultas Sastra”!!
Sedikit ada keganjilan ketika mendengar apa yang disampaikan Mala, karena tidak biasanya mereka rapat di mushola Fakultas Sastra. Mereka selalu rapat di mushola FE atau di mushola Teknik. Terkadang masjid kampus menjadi alternatif terakhir. Tapi kali ini, kok di Sastra? Oh, mungkin akhwat ingin suasana baru, ujarnya dalam hati. Besok dia akan di wisuda dan seninnya akan langsung ke Jakarta bersama Mama dan Papanya. Hitung-hitung juga kangen-kangenan dengan seluruh akhwat nantinya sebelum dia pergi

3
Undangan Dari SMA 5
Jam 07.00 pagi adalah jamnya sibuk. Para pelajar mulai dari yang berserangam PAUD sampai yang berseragam putih abu-abu mulai memenuhi jalanan. Mereka ikut berebutan menaiki angkotnya yang akan mengantarkan mereka sampai gerbang sekolah. Beruntung budaya macet belum begitu terasa di kota Padang sehingga perjalanan bisa di nikmati dengan tenang dan nyaman. Satu-satunya halangan yang mengancam di jalan adalah rasa mual yang menyerang perut, karena sopir angkot yang ugal-ugalan di jalanan.
Aibi telah bersiap-siap menuju kampus. Tapi entah kenapa tidak seperti biasanya lama sekali Aibi berdiri di depan kaca memperhatikan wajahnya yang sedikit kelelahan dengan seabrek tugas yang telah menyita tenaga dan pikirannya. Sepertinya dia membutuhkan suplement tambahan biar terlihat fit di hari wisuda yang tinggal hitungan jam. Tidak sampai 24 jam lagi. Dia berjanji di dalam hati setelah ini dia akan memanjakan diri. Ini adalah terakhir kalinya dia beraktivitas di kampus dan setelah ini akan istirahat untuk beberapa waktu sebelum S.2 nya di Jepang di mulai. Dia berjanji akan memanfaatkan waktunya dengan orang tuanya sebelum berangkat ke negeri Sakura.
Aibi beranjak dari depan kaca beberapa langkah. Diedarkannya pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar. Matanya terbentur pada sepasang baju yang tergantung dengan anggun di belakang pintu. Didekatinya baju itu dan diciumnya dalam-dalam. Sebentar lagi baju ini akan menjadi saksi dari sejarah perjalanan panjang perjuangannya. Tak terasa tiba-tiba ada yang jatuh dari kelopak matanya. Baru dia sadari kalau sebentar lagi dia akan pergi. Segenap hatinya diliputi rasa sedih. Dia merasakan hidupnya begitu hampa. Akankah dia kembali menemukan saudara-saudara yang baik seperti di wisma ini? Seperti di kampusnya ini?
****
Baru saja Aibi melangkahkan kakinya keluar kamar, tiba-tiba Hpnya bernyanyi ria mendendangkan lagu merah saga dari shoutul harokah. Dengan gerakan cepat Aibi mengeluarkan Hpnya. Nomor tak dikenal. Siapakah gerangan? Akhwat yang sudah menunggunyakah? Di lihatnya jam kecil yang melingkari pergelangan tangannya, baru jam 08.05 tidak mungkin akhwat yang telfon. Lalu siapakah gerangan?
“Assalamu’alaikum…” Sapa Aibi lembut
“Wa’alaimussalam, Kak”. Jawab suara di seberang sana.”Kak Aibi kan Kak?” tanya suara itu lagi
“Iya betul, ini Kak Aibi. Ini siapa?” tanya Aibi penasaran.
“Ini Riri Kak. Anak SMA lima. Dapat nomor Kakak dari Kak Widya”.
“Oh iya, Riri. Ada apa dik? Ada yang bisa Kakak bantu?”
“Ada Kak. Begini Kak, kami mau mengadakan forumannisa’ di sekolah siang ini. Tapi kami belum punya pemateri. Apa Kakak bisa, Kak?
“Jam berapa ya dik?”
“Jam 11.30 Kak”.
“Aduh… ‘Afwan dinda. Sepertinya Kakak tidak bisa karena hari ini Kakak juga ada kegiatan di kampus”.
“Aduh Kak… Mohon Kak, kali ini saja Kak, tolong bantu kami Kak. Tadinya kami sebenarnya sudah hubungi Kak Widya empat hari yang lalu. Tapi pagi tadi mendadak beliau pulang kampung karena orang tuanya sakit, Kak. Dan kami di kirimin beberapa nomor sama beliau untuk alternatif pengganti. Tapi sayang diantara mereka tidak ada yang bisa karena ada acara juga. Kakak satu-satunya yang belum kami hubungi. Kami sangat berharap Kakak bisa menjadi pemateri, Kak. Soalnya kami sudah tidak tahu akan menghubungi siapa lagi. Sedangkan pengumuman telah kami sebarkan di sekolah. Pesertanya insya Allah banyak, Kak. Kami tidak ingin peserta kecewa, Kak. Kak, tolong Kak. Tolong kami Kak. Karena kalau hari ini gagal lagi diangkatkan, berarti ini sudah yang kedua kalinya Kak. Kemaren juga karena pemateri gak bisa. Dan kami takut untuk kedepannya kawan-kawan tidak percaya lagi sama kami, Kak. Kak please Kak. Untuk kali ini, tolong kami, Kak”.
Mendengar apa yang disampaikan Riri, hati Aibipun terenyuh. Tak tega rasanya dia menolak keinginan Riri. Tidak ada alasan untuk menolak menyampaikan kebaikan. Jika ustadzah Yoyoh Yusrah yang mempunyai 13 orang anak tidak pernah mengatakan tidak ketika di undang mengisi pengajian, lalu apa alasan Aibi untuk menolak permintaan tulus dari adik yang menelfonnya itu? tegakah dia menghancurkan kepercayaan teman-teman di sekolahnya terhadap mereka? Hatinya menjerit.
Diingatnya lagi jadwalnya hari ini. Menjelang jam 12 ini ada tiga agenda yang akan dilaksanakannya. Rapat bersama akhwat di kampus. Kemudian mengambil kenang-kenangan wisuda di jurusan karena kemaren belum siap dan juga ada sedikit permasalahan yang harus didiskusikan bersama ketua jurusan. Karena kemaren Pak Kamal memintanya untuk menemuinya nanti jam 10.00 setelah itu mengembalikan buku Bu Dharna yang di pinjamnya beberapa bulan yang lalu untuk membuat laporan penelitiannya. Mungkin untuk buku Bu Dharna bisa nanti jam 14.00 diserahkannya. Setelah itu langsung ke bandara menjemput Mama dan Papanya.
“hm… gimana ya? Mulainya jam 11.30 ya dik?” Aibi terdiam beberapa saat. Memperkirakan berapa waktu yang akan digunakannya untuk menyelesaikan dua agendanya pagi ini. Karena satu telah di undur ke jam 14.00.
“Begini saja. Kakak akan usahakan datang kesana. Di SMA Lima kan? Tapi settingannya begini, nanti silahkan dimulai dulu acara pembukaannya. Kalau acara pembukaan sudah selesai Kakak belum juga datang, nanti di isi saja pake nasyid terlebih dahulu oleh panitia. Kakak mungkin terlambat. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di kampus hari ini. Kalau sudah selesai, Kakak hubungi, adik. Kalau ada apa-apa nanti kakak hubungi lagi. Kalau seperti itu bagaimana, dik?” kata Aibi mengakhiri
“Iya Kak. Terima kasih banyak Kak. Jawab Riri dengan suara bersemangat. Padahal tadi ia hampir menyerah mendengar jawaban Aibi
“OK, tetap semangat ya dik. Allah pasti akan memudahkan jalan seorang hambah yang mempunyai niat yang baik. Apalagi untuk kejayaan islam. Pasti Allah akan mudahkan Insya Allah”. Aibi berusaha memotivasi Riri.
“Iya Kak. Terima kasih sekali lagi Kak. Saya tunggu kehadiran Kakak di sekolah ya Kak”. Timpal Riri bersemangat. Penasaran sekali dia dengan Aibi. Siapakah wanita lembut itu? Seperti apakah wajahnya? Adakah secantik kata-katanya tadi? Atau jauh lebih cantik? Semua orang akan berpemikiran seperti itu jika berbicara lewat telfon dengan Aibi.
“Sama-sama dik. Semoga Allah mempertemukan kita nanti, ya”. Setelah menjawab salam, Aibipun langsung buru-buru menuju halte untuk naik angkot.
***
4
Acara Perpisahan
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini karena apa yang kita jalani hari ini merupakan kehendak Allah. Takdir Allah terhadap manusia telah tertulis indah di lauh mahfuzs. Apa yang kita jalani hari ini adalah karena skenario Allah, sang sutradara handal kehidupan. Aibipun tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Baginya yang penting adalah menjalankan kehidupan ini sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dia sangat menikmati perjalanannya menuju kampus pagi ini. Di sepanjang perjalanan matanya terus ke luar angkot. Dia asyik melihat pohon lindung yang seperti berkejar-kejaran di tepi jalan. Satu dua di perhatikannya ada petani yang sedang menanam benih padi di sawah yang terhampar luas di sepanjang jalan menuju kampus. Semakin mendekati gerbang kampus, semakin ramai pohon pelindung yang di tanam di tepi jalan. Hatinya semakin bahagia menyaksikan pemandangan tersebut
Gedung student center itu berdiri dengan megahnya. Disanalah puluhan mahasiswa telah membenamkan dan menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan organisasi. Ada yang hanya berfikir untuk menguasai kampus saja, tanpa harus berfikir sumbangsih apa yang akan mereka berikan untuk kampus ini, yang ada dalam fikiran mereka bagaimana mereka bisa menguasai BEM Universitas, lambang kekuasaan tertinggi kampus karena dengan demikian mereka dapat merubah kebijakan yang ada
Ada yang sibuk memperbanyak anggota saja, tanpa harus berfikir apa manfaatnya. Ada yang sibuk mencari-cari kesalahan dari organisasi lain dan banyak lagi. Hanya sedikit saja dari mereka yang berfikir mengenai kondisi kampus sekarang. Yakni untuk melakukan perubahan dan membuat kampus ini menjadi kampus yang beradab dan berkepribadian tinggi. Itulah cita-cita dari anak-anak forum yang dijuluki sebagai orang-orang aneh oleh masyarakat kampus. Hanya gara-gara pergerakan dan rute perjalanan mereka seputar Masjid dan mushola kampus, kemudian berbicara di balik tirai tinggi dengan suara pelan-pelan, yang terkadang oleh orang-orang tidak mengerti tirai atau hijab itu mereka katakan kelambu. Setelah selesai berbicara di balik tirai, maka mereka akan keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk dari pintu yang berbeda dan arah yang berlawanan.
Mereka tidak tahu, bahwa orang-orang aneh yang mereka juluki itu tengah menyusun sebuah rencana besar untuk kampus ini. Demi mewujudkan satu cita-cita menjadikan kampus ini menjadi kampus madani. Yang menjadi rahmatalil ‘alamin dan talbiyatun warabbul ghofur. Aibi semakin tidak sabaran ingin berjumpa akhwat. Dan dia juga rindu sekali dengan sekre FSI yang terletak di lantai dua itu.
Tak lama kemudian, akhirnya angkot yang ditumpanginya telah berhenti tepat di depan mushola Fakultas Sastra. Sejenak diperhatikannya banyak sekali sepatu dan sandal yang berjejeran di luar. Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru jam 09.00. Kok banyak sekali mahasiswa di mushola? Bukankah seharusnya jam segini kuliah sedang padat-padatnya? Lalu kenapa pada nongkrong di sini? Kalo kayak gini, gimana mau rapat? Aibi berusaha membuang segala tanya yang ada di benaknya karena sudah jam 09.00. Dia takut terlambat.
Aibi mempercepat langkahnya. Selangkah, dua langkah dan selanjutnya. Akhirnya dia sampai juga di pintu mushola. Baru saja dia menjulurkan kepalanya ke dalam mushola, tiba-tiba semua orang yang ada di mushola itu berteriak serentak “Selamat di wisuda Ibu Raisyah Aibi Rizaldi, S.Si”. Aibi yang mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu kaget setengah mati. Belum hilang rasa kagetnya, akhwat-akhwat datang menghampirinya satu persatu, memeluk dan mencium pipi kiri dan kanannya. Aibi pasrah dan menerima semua salaman dari saudara-saudaranya itu dengan hati bertanya-tanya. Aibi menangis. Menangis bahagia bercampur menyaksikan apa yang dilakukan oleh para akhwat untuknya. Merekalah yang telah membersamai langkah kakinya selama ini dalam menjalankan amanah dakwah yang begitu banyak. Merekalah yang merawatnya ketika dia terbaring tak berdaya di rumah sakit karena terserang penyakit typus. Mereka jugalah yang membantunya ketika dia sakarat di pondok waktu hujan-hujan itu.
Kemana akan dicarinya orang-orang pilihan ini? Yang mempunyai cinta sebening embun pagi dan kasih sesejuk salju. Cinta yang tak pernah lekang oleh panas dan tak pernah lapuk oleh hujan. Cinta yang telah mendarah daging dan menjalar disetiap nadi-nadi mereka. Betapa semua cinta itu bermuara kepada cinta Iilahi Rabbi. Itulah yang telah menguatkan ikatan ukhuwah mereka.
“Kenapa akhwat mengucapkan selamatnya sekarang? Wisudanya besok, bukan?” tanya Aibi setelah bisa menguasai diri.
“Besok Ukhti pasti sangat sibuk, banyak orang yang ingin berfoto bersama ukhti nantinya. Dan kami tidak mau menunggu lebih lama lagi. Kalau kami mengundur mengucapkan selamat sampai besok, itu sama saja dengan kami mengundur dua hari lagi. Kami yakin hari minggunya baru bisa mendapatkan giliran. Itupun belum pasti karena ukhti juga akan di sibukkan dengan orang tua ukhti yang datang khusus dari Jakarta untuk ukhti.
“Maka kami mengambil jalan pintas. Kami ingin menjadi orang yang pertama untuk mengucapkan selamat wisuda untuk ukhti. Sekali lagi, ane mewakili seluruh akhwat di FSI mengucapkan selamat di wisuda untuk Ukhti. Semoga Allah mudahkan jalan ukhti dalam meraih cita-cita dan impian. Kami tidak tahu bagaimana kami akan melanjutkan amanah ini tanpa ukhti. Kami merasakan amanah ini begitu berat. Tidak bisa dipungkiri, karena ukhti-lah akhirnya kita bisa seperti ini”. Kata Mala dengan mata berkaca-kaca.
Betapa selama ini dia telah menyaksikan ketangguhan dari wanita yang ada dihadapannya ini. Akhwat yang lainpun ikut sedih. Merekapun telah menjadi saksi dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita luar biasa ini. Betapa dia sedikitpun tidak pernah merasa kehabisan semangat. Dia selalu mempunyai cara untuk menghadapi segala tantangan yang ada
“Berpisah bukan berarti kita bercerai, bukan? Ukhuwah telah menyatukan kita. Cinta karena Allah telah menyatukan dan menghimpun kita di jalan tercinta ini. Cinta itu berasal dari sang Pemilik cinta itu sendiri, maka yakinlah sampai kapanpun cinta itu akan tetap ada di hati-hati kita, Insya Allah. Apapun yang terjadi. Jelas Aibi
“Walaupun kita terpisah jauh, tapi hati kita bersatu. Cinta itu pasti akan kembali memanggil kita dan menghimpun kita lagi di jalan ini. Jika tidak di dunia kita bersua, maka Insya Allah kita akan reunian di syurganya Allah. Asalkan dengan satu syarat, kita mengembalikan cinta itu kepadaNya.
“Akhwatifillah , justru seharusnya anelah yang berterima kasih kepada akhwat sekalian. Ane tidak bisa bayangkan bagaimana ane akan bisa menjalani semua amanah ini dengan baik jika tidak ada akhwat. Syukron akhwat. Syukron untuk ketulusan cinta akhwat, syukron untuk kebaikan akhwat selama ini. Kalaulah sandainya tidak ada akhwat, mungkin ane sudah meninggal di pondok ketika hujan-hujan itu. Ane tidak bisa membalas semua kebaikan akhwat. Biarlah Allah saja yang mencatat segalanya sebagai amal ibadah bagi akhwat.
“Bagaimana akhwat harus bergantian ronda untuk merawat ane ketika ane sakit. Jasa akhwat tidak akan terbalaskan oleh ane. Jazakillah khairan jazaa’ukhti ”. Kata Aibi dengan berurai air mata.
“Ah… Kenapa kita malah bertangis-tangisan? Seperti kita akan berpisah untuk selamanya saja”. Kata Aibi lagi berusaha untuk tersenyum
“Ah… Kak Aibi seperti tidak tahu saja. Tiga minggu lagi Kakak kan mau berangkat ke Jepang. Bahkan senin ini saja Kakak udah pergi ke Jakarta. Itu tandanya Kakak akan pergi jauhkan, Kak?”. Dhea yang sudah dari kemaren tidak lagi mau berbicara dengannya buka suara. Ternyata inilah penyebabnya, karena perpisahan itu sehingga dia mogok untuk berbicara.
Mendengar apa yang di sampaikan Dhea kembali para akhwat terdiam, ternyata tinggal sebentar lagi kebersamaan mereka. Tiga minggu lagi. Merekapun menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, terlihat sekali betapa mereka tidak mau berpisah dengan Aibi
Lain pemikiran manusia lain pula yang tercatat di lauh mahfus. Ternyata kebersamaan mereka tidak lama lagi tinggal hitungan jam mereka akan bersama.
Mendengar apa yang disampaikan teman-temannya, Aibi terharu. Ia susah payah menyembunyikan air matanya. Jepang yang selama ini menjadi impiannya, tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan hatinya. Semuanya berubah menjadi teka teki yang sulit untuk dijawab. Akankah disana dia berjumpa lagi dengan orang-orang luar biasa seperti disini? Entahlah. Dia tidak ingin membayangkan hal itu lebih jauh lagi. Biarlah semua itu menjadi teka teki yang akan terjawab nanti setelah dia ada disana.
Dipejamkannya matanya untuk menghapus semua bayangan yang itu. Entah kenapa tiba-tiba dia berubah menjadi pesimis.
“Dhea…. Kakak kan hanya sementara saja kesana. Setelah kuliah Kakak selesai, Insya Allah Kakak akan kembali lagi kesini. Lagi pula kita masih bisa berhubungan kok. Bukankah kecanggihan dari teknologi bisa mendekatkan yang jauh? Sehingga kita masih tetap bisa saling berbagi? Lalu apa lagi yang harus kita takutkan?”. Aibi berusaha menghibur Dhea
Ah… dia benar-benar tidak tahu, justru semua itulah yang akan membuat saya frustasi dan hampir gila. Semua itulah yang akan menyiksa batin ini selama bertahun-tahun, ujar Aibi dalam hati
****
5
Perjalanan Ke SMA Lima
Pagi yang indah. Matahari sudah merangkak naik. Kesibukan mulai memuncak dan manusia mulai mengais-ngais rezki yang telah di peruntukkan untuk mereka. Maka beruntunglah orang-orang yang bertebaran di muka bumi ini setelah subuh beranjak mendekati pagi. Kemudahan itu memang di peruntukkan bagi orang-orang berusaha dan bekerja keras penuh keikhlasan.
Aibi telah berada di atas angkot yang akan mengantarnya sampai SMA Lima. Dia telah mengabari akan keberangkatannya ke SMA tersebut. Wajah cantiknya begitu cerah dan sejuk di pandang mata. Senyum manis selalu terlukis dibibirnya yang merah. Jika kawan-kawan yang akan di wisuda sibuk memanjakan kulit wajahnya di salon, dia malah sibuk menikmati perjalanannya menuju SMA Lima. Dia bahagia sekali. Senyum manis tidak pernah hilang di bibirnya karena sebentar lagi dia akan berbagi ilmu dengan mujahidah-mujahidah sholehah yang sangat dicintainya
Aibi sibuk bercengkrama dengan balita yang ada di atas angkot yang memakai baju olahraga Paud. Dia memang paling senang dengan anak kecil, apalagi anak cadel. Dia paling senang karena lucu kalau sudah mendengar anak cadel itu berbicara. Mengajarkan balita itu bernyanyi balonku ada lima, tentu saja dengan suara yang pelan. Dia bahagia sekali ketika balita itu memanggilnya dengan panggilan Kak Bibi. Lucu terdengar di telinganya.
****
6
Sepasang Elang Terbang Melingkar
Waktu menyimpan misteri. Kita hanya bisa menjalaninya. Detik, menit, jam. Itulah kodrat kehidupan. Dalam sekejap apapun bisa berubah. Sebuah tawa kadang diakhiri dengan air mata. Sebaliknya, sebuah tangis kadang diakhiri oleh rasa bahagia. Namun tidak semua orang bisa menerima kenyataan yang pahit dengan lapang dada. Adapun kebahagiaan terkadang ada yang meluapkannya hingga lupa diri. Lupa untuk bersyukur.
Kata orang yang paling akrab dengannya waktu adalah buku usang. Masa itu datang mendekatinya secara perlahan tapi pasti. Selangkah, dua langkah, dan semakin mendekati urat lehernya sendiri. Tempat itupun semakin dekat. Tinggal hitungan detik, angkot yang di tumpanginya benar-benar akan berhenti tepat di depan tempat tujuannya yang akan menghantarkannya menuju tempat paling sepi dalam hidupnya.
Dengan wajah penuh keceriaan di langkahkannya kakinya menuruni angkot. Seperti tidak mempunyai beban lagi, dengan langkah kaki ringan di seretnya tubuhnya bersiap melintasi jalan besar yang terhampar. Sebelum dia memulai melintasinya, dilihatnya jam yang melilit pergelangan tangannya. Tepat jam 11.30. Dia pun tersenyum karena tidak terlambat.
Di seberang sana dilihatnya dua orang remaja putri yang memakai baju seragam batik sudah menunggunya sambil tersenyum lebar. Diapun menebak, yang kiri yang pakai kaca mata sama seperti dirinya itu pasti Riri yang menelfonnya tadi pagi. Senyum Ririlah yang paling ranum dan bahagia sekali menyambut kedatangannya.
Aibipun celingukan kiri dan kanan memperhatikan apakah masih ada yang kendaraan yang mau lewat. Biasanya hari jumat sangat jarang sekali kendaraan yang lalu lalang. Dengan berucap bismillah Aibi mulai menyeberangi jalan raya dengan santai.
Tapi, belum sampai ia tiba di seberang jalan tiba-tiba sebuah mobil inova melaju dengan kecepatan tinggi. Awalnya Aibi menganggap tidak akan apa-apa karena jaraknya masih jauh. Tapi sepertinya mobil tersebut tidak bisa dikendalikan oleh pengendaranya sehingga dalam hitungan sepersekian detik kejadian naas itupun terjadi. Aibi panik seketika karena sudah tidak bisa lagi mengelak. Dia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan. Mobil itupun langsung menabraknya. Tidak alang lagi tubuh itu terpental jauh. Tiba-tiba Aibi merasakan kesunyian panjang mencekam hidupnya. Segala suara yang ada di bumi ini se akan hilang di telan bumi. Wajah Mama dan Papanya berkelabat di benaknya. Aibi terhempas. Tubuhnya membentur trotoar jalan. Sepertinya nyawanya tak bisa lagi ditolong. Ia bagaikan se onggok bangkai yang tak berguna.
****
Bercak darah ada di mana-mana. Rok putih yang dipakainya itupun telah berubah warnanya menjadi merah. Darah segar mengalir bak menganak sungai. Tiba-tiba langit berubah mendung. Langit yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi gelap. Awan putih yang tadi berarak-arak, kini telah berubah menjadi awan hitam yang siap memuntahkan kandungan air yang ada di dalamnya.
Jauh di atas sana, dua ekor elang terbang melingkar seolah-olah ingin mengabarkan berita duka itu kepada semua orang yang ada di permukaan bumi ini. Wajah itu telah mengeras, pucat pasi.
Malang tidak dapat ditolak dan mujurpun tidak dapat diraih. Malang dapat terjadi sekejap mata, mujurpun demikian adanya. Manusia hanya menjalankan kehidupan ini sesuai dengan titah Tuhannya. Takdir Tuhan jualah yang menentukan segala-galanya. Kita bisa bermimpi dan bercita-cita setinggi apapun yang kita inginkan, tapi Tuhan yang akan menentukan. Apakah kita bisa meraih dan mendapatkannya? Tuhanlah yang menentukan segala-galanya. Cita-cita kehidupan itu perlahan mulai tertutup. Matahari kehidupanpun langsung berubah mendekati warna ketuaan zaman. Semua cita dan impian itu terbang entah kemana.
Mulut yang biasanya selalu tersenyum ramah kepada siapapun dan selalu memberikan kata-kata yang menyejukkan hati setiap orang yang mendengarnya, hari ini telah disulap menjadi bungkam. Dan mata itu, mata yang selalu memandang penuh keteduhan yang mampu mendatangkan ketenangan hati kini telah terpejam. Wajah penuh ketawadhukan itu, kini telah berubah pucat pasi. Manusia kebanggaan itu sudah tidak berdaya lagi. Bahkan beberapa saat dibiarkan bergelimpang di trotoar jalan begitu saja dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Siapakah yang akan mengurus tubuh tak berdaya tersebut?
****
Sementara nun jauh di kabin pesawat di atas udara sana, seorang wanita separoh baya seperti cemas menunggu landingnya pesawat yang ditumpanginya. Dia baru saja tersentak bangun dari tidurnya tiga menit yang lalu. Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi ia akan tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Perjalanan yang hanya 45 menit tersebut terasa sangat lama sekali. Ia terlihat begitu gelisah di kursinya. Berkali-kali dia menggengam erat tangan suami yang ada di sampingnya tapi tidak juga mampu menenangkan hatinya. Dia tidak tahu apa penyebabnya. Pesawat yang di tumpanginya seperti stagnan di atas udara, tidak bergerak. Bagaikan layang-layang yang dikendalikan dengan seutas tali dari bumi, kemudian pada ketinggian tertentu layang-layang tersebut di tahan.
Hembusan nafas berat sering terdengar dari mulutnya. Mimpi yang menghampirinya dalam tidurnya yang singkat tadi begitu nyata di rasakannya. Mimpi itu sangat mengusik hatinya. Anak gadis semata wayangnya tiba-tiba datang menghampirinya dari belakang. Memeluknya dengan erat, tapi hanya sesaat saja, kemudian dia melepaskan pelukannya dan berlalu begitu saja darinya tanpa pamit terlebih dahulu. Tidak seperti biasanya. Kemudian senyumnyapun begitu tipis dibibirnya. Dia telah memanggilnya dengan keras, tapi putrinya berlalu dan kemudian menghilang. Diapun langsung terbangun dari tidurnya. Ada apa dengan anaknya itu? Dia cemas akan terjadi sesuatu dengannya.
Hampir saja dia nekat mengaktifkan handphone selularnya, tapi untung saja dia ingat kalau dia bukan sedang berada di ruang keluarga rumahnya yang mewah, tapi sedang di kabin pesawat. Maka dimasukkannya kembali Hpnya ke dalam tas. Di liriknya ke samping kanan, suami tercintanya masih sedang tertidur pulas. Tidak sampai hati dia membangunkannya.
Sementara di kamar wisma yang ditinggalkan, baju wisuda yang sempat ditangisi Aibi sebelum dia berangkat ke kampus tadi pagi jatuh bersamaan dengan tubuhnya tepat membentur trotoar jalan. Baju itu seperti tahu dan mengerti kalau tuannya sedang berjuang menghadapi maut
****
Aibi 2

Iklan

About the post

Novel, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: