Novel Aibi#2

1463068_422606857868557_181372887_n
7
Gelombang Ujian

Dunia semakin kelam, kehampaan semakin mencekam. Semua kenangan itu meloncat dan meronta ingin keluar. Bagi Aibi hari ini yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan dari kehidupannya. Aibi yang dulu begitu hebat, tak ditemukan lagi hari ini. Bagaimanakah tanggapan orang-orang yang dulu pernah mengenalnya? Bahkan pernah sangat menyukainya? Masihkah mereka akan menganggapnya seperti lima tahun yang lalu? Betapa dia tidak berani untuk berjumpa dengan mereka. Biarlah segala duka ini menjadi miliknya. Biarlah segala penderitaan ini menjadi teman hidupnya. Masa lalu itu harus di kubur dan di buang jauh-jauh. Biarlah semua menjadi kenangan dan sejarah dalam hidupnya sebagai bukti kalau dia memang pernah ada dahulunya.
Pandangannya semakin jauh ke depan. Menerawang. Mencoba meraba-raba tentang kehidupan yang tengah di jalaninya saat ini. Semuanya harus di sudahi. Semuanya harus di akhiri. Menangis dan larut dalam kesedihan tidak akan menyelesaikan masalah. Tidak akan mengembalikan keadaannya kepada bentuk semula. Saatnya dia harus menata kembali kehidupannya. Walau apapun yang terjadi kehidupan harus tetap dilanjutkan. Tidak boleh terhenti hanya sampai disini. Sudah cukup tangisan. Telah lelah jiwanya mengutuki segala sesuatunya.
Di dapatinya bayang dirinya semakin nyata adanya. Dia memang sudah ditakdirkan untuk tetap ada di kursi roda ini sampai ajal menjemputnya. Sampai maut merenggutnya kembali kepada pangkuan sang Illahi. Jika dia senantiasa berada di atas kursi roda ini, itu tandanya dia akan banyak merepotkan orang-orang yang ada di sekelilingnya
Satu persatu wajah orang-orang yang merawatnya selama ini hadir di pelupuk matanya yang basah oleh air mata. Wajah Mama dan Papanya seketika terlukis di sana. Wajah yang semakin terlihat layu yang kocar kacir mencari informasi kesegala penjuru di dunia ini mengenai tempat pengobatan yang terbaik untuk kesembuhannya. Rela melakukan apapun demi melihatnya tertawa dan tersenyum lagi. Tapi apa yang sudah dilakukannya?
Dia telah membalas segalanya dengan kekecewaan yang mendalam dengan sikapnya yang bersikukuh untuk bertahan dalam kebisuan yang panjang. Kebisuan yang seperti tidak akan berpenghujung. Suaranya bagaikan hilang di telan bumi. Bahkan beberapa kali sempat dia melakukan percobaan bunuh diri karena merasa tidak bermakna dan tidak berarti lagi. Pernahkah dia mengucapkan terima kasih? Sungguh selama ini kata-kata itu telah tercerabut habis karena kebencian di dalam hatinya. Dia benci dengan kehidupan yang dilakoninya hari ini. Dia hanya selalu membuat dua manusia mulia itu menangis sedih
“Oh Aibi… sudahilah dukamu. Berdamailah dengan keadaan. Akhirilah semuanya. Sampai kapan kamu akan membuat orang tua mu susah? Bukankah menyaksikan kamu duduk di kursi roda dengan tidak berdaya sudah cukup membuat mereka tersiksa? Kenapa kamu tambah lagi dengan kebisuan panjang yang tak berpenghujung? Kenapa kamu hanya memikirkan perasaanmu saja Aibi? Tidak kah kamu tahu, orang-orang yang ada di sekelilingmu juga menderita melihat sikapmu yang tak kunjung normal? Mereka tahu kamu menderita menjalani semua ini. Mereka mengerti. Tapi kenapa kamu tidak mengerti akan mereka? Lihat orang tuamu Aibi, akankah kamu membuat orang tuamu menanggung semua beban ini begitu saja? Tidakkah kamu tahubahwa kamu adalah satu-satunya harapan orang tua mu? Bukankah mereka tidak menuntut banyak? Hanya satu yang mereka inginkan darimu. Kembali seperti dulu. hanya itu. Tapi bukankah itu sangat sulit sekali? Entahlah….. semua perasaan itu bergemuruh hebat di dada Aibi.
Oh Mama… Papa… Maafkan Aku Ma, Pa. Aku telah berdosa kepada Mama dan Papa. Aku telah menyusahkan kalian. Apa salahnya Aku membantu meringankan beban Mama dan Papa. Apa salahnya Aku berusaha menyenangkan hati Papa dan Mama dengan bersikap manis dan menerima segalanya walau tidak dapat dipungkiri terasa sangat menyesakkan dada dan pahit di kerongkongan ini. Mungkin Papa dan Mama lebih tersiksa dari pada saya selama ini. Maafkan Aibi Pa.. Ma…” tubuh itu semakin terguncang hebat di atas kursi rodanya.
Matanya terus menerawang menyelami lautan hati yang paling dalam. Lautan yang selama ini telah ditinggalkan dan tidak pernah lagi dibersihkannya. Segala kotoran telah menempel di bibir pantai itusehingga telah menggelapkan pemandangan mata. Dia hanya sibuk memikirkan peruntungan nasib dirinya yang malang tanpa peduli dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Betapa dia selama ini merasa orang yang paling sengsara dan menderita di atas dunia ini karena di dapatinya dirinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Betapa egoisnya dia selama ini.
Wajah suster Rahmi yang merawatnya hadir disana. Tersenyum tulus kepadanya. Suster Rahmi yang begitu tulus dan ikhlas merawatnya selama ini. Bagaimana dia memandikannya, menyabuni seluruh tubuhnya, menggantikan pakaiannya, menyisirkan rambutnya dan melakukan segalanya. Tidak jarang Suster Rahmi harus membersihkan kotorannya yang tidak disadarinya ternyata telah keluar begitu saja tanpa dia bisa membersihkannya. Bahkan terkadang suster Rahmi juga harus membersihkan air seni yang sudah berserakan di lantai kamarkarena dia bersikukuh mencoba ke kamar mandi sendiri danmengatakan dirinya tidak cacat. Akhirnya kursi rodanya oleng dan diapun terjatuh ke lantai.Sekuat tenaga dia berusaha untuk berdiri, tapi tidak bisa. Bahkan sedikitpun dia tidak bisa beranjak dari tempat semula. Akhirnya dia terpaksa buang air kecil di ruangan kamar. Untung ada Rahmi yang mengangkat dan memandikannya serta mengepel lantai. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang Rahmi merawatnya. Andaikan tidak ada Rahmi hari itumungkin seharian dia akan bergelimangan air seni. Mungkin dia akan berkubang dengan kotorannya sendiri. Tak sekalipun di dengarnya keluhan keluar dari mulut Rahmi.
Pernahkah diamengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukan Rahmi? Malah ia merutuk di dalam hati. Bahkan terkadang dengan kasar dia mendorong tubuh Rahmi sampai terhuyung. Mana Aibiyang dulu? Yang mudah mengucapkan terima kasih kepada siapapun? Mana Aibi yang dulu yang selalu tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya? Telah hilangkah Aibi akibat duka yang di alaminya ini?
Oh tidak… Sudah begitu banyak dosa yang telah dilakukannya selama ini ternyata. Tubuh itu semakin terguncang hebat di atas kursi roda. “ Ya Tuhan, ampuni aku Tuhan. Kenapa begitu rapuhnya aku? Jangan biarkan aku terbenam terlalu lama dalam duka nestapa ini. Kehidupan ini harus dilanjutkan. Aku tidak boleh berhenti hanya gara-gara musibah ini”. Dia semakin terisak. Air matanyapun semakin deras mengalir. Air mata penyesalan dan air mata keikhlasan menerima takdir. Dia harus bangkit dari ketidak berdayaan ini karena dia tidak ingin mati dalam kehidupan dan hidup dalam kematian.
Penyesalan selalu saja datang di akhir. Sejatinya kehidupan yang kita jalani hari ini merupakan titah Tuhan. Dialah sang sutradara handal. Inilah takdir kehidupannya. Tidak menerima takdir sama saja dengan mengingkari nikmat Tuhan. Lalu nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan? Lihatlah dirimu Aibi. Kamu masih dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu. Kamu masih punya Papa dan Mama yang teramat mencintaimu. Kamu punya teman, adik, bahkan seorang perawat yang sangat menyayangimu. Lalu apa lagi yang membuatmu tidak menerima segala ini? Terimalah segala ini dengan lapang dada. Berhentilah untuk menyesali segalanya. Konflik batin semakin memuncak dalam dirinya
***
8
Menjemput Kebahagiaan Yang Hilang

Minggu pagi yang sibuk. Pak Rizaldi sibuk menghubungi para koleganya di berbagai manca negara mencari info tempat pengobatan terbaik. Bu Aisyah pun tidak ketinggalan karena dia seorang dokter. Dia tidak terlalu susah mencari informasi. Cukup dengan menghubungi para dokter yang bekerja di rumah sakit. Dia pun disarankan untuk membawa putrinya berobat ke Rusia yang mempunyai sistem pengobatan yang canggih untuk mengembalikan sistem kerja syaraf tulang belakang yang telah rusak, yaitu dengan melakukan terapi sel induk.
Sel induk berasal dari janin manusia. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan terungkap sebuah fakta bahwa tali pusar pada bayi yang baru lahir mengandung berjuta sel induk (stem cells). Sel induk juga bernilai amat penting untuk pembentukan sel darah merah, sel darah putih maupun platelet.
Di Rusia, para ilmuwan mampu mengambil pendekatan yang bijak terhadap fakta ilmiah ini dan mendorong riset di bidang ini dengan giat.Salah satu cara yang mereka lakukan untuk menyembuhkan penderita cidera syaraf tulang belakang adalah menempatkan seberkas jaringan urat syaraf tulang belakang dari janin pada urat pasien yang putus. Secara teori sel-sel itu akan tumbuh dan membentuk jembatan sehingga mengirimkan rangsangan-rangsangan ke bagian bawah pasien sehingga kembali “on” seperti sedia kala. Melihat kondisi Aibi, sepertinya melakukan terapi sel induk adalah pilihan terbaik.
Wajah wanita setengah baya itu berbinar-binar mendengar semua penuturan seorang dokter yang di hubunginya tersebut. Tanpa buang-buang waktu langsung dihampirinya suaminya untuk memberitahukan tentang semua itu dan merencanakan keberangkatan mereka ke Rusia untuk pengobatan Aibi. Lebih cepat lebih baik., pikirnya. Masa depan lebih cerah tengah menunggu putrinya. Dengan wajah penuh sumringah dihampirinya suaminya yang sedang sibuk menghubungi koleganya di berbagai manca negara.
Melihat istrinya datang menghampirinya dengan wajah penuh sumringah, dihentikannya pembicaraannya dengan koleganya dan mengamati istrinya dengan tatapan penuh tanya. Tapi yang di tatap terus tersenyum manja kepadanya. Dia semakin penasaran berita apa yang dibawa istrinya gerangan? Sehingga membuatnya tersenyum selebar itu? Seingatnya, selama lima tahun belakangan semenjak kejadian kecelakaan yang di alami Aibi baru kali ini istrinya itu tersenyum lagi seperti ini. Ada apakah gerangan?Lelaki itu berusaha menebak-nebak apa yang ada dalam benak istrinya
“Ada apa Ma? Kok Mama bahagia sekali?” Selidik Pak Rizaldi keistrinya.
“Coba tebak berita apa kira-kira yang Mama bawa untuk Papa? Kerling istrinya manja. Sudah lama sekali rasanya dia tidak berkomunikasiseperti ini bersama suaminya. Hampir lima tahun keluarga mereka tenggelam dalam kesedihan dan kecemasan yang mencekam. Dan hari ini, akankah semua itu berakhir?
Mereka langsung mencari Aibi untuk mengabarkan berita gembira ini. Kali ini mereka yakin Aibi sangat bahagia mendengar semua ini. Mereka bergegas menuju kamar Aibi. Begitu pintu dibuka, sosok yang di cari tidak di temukan. Ayah dan Ibunyakemudian menuju teras samping, namun sosok yang dicari juga tidak ada. DidekatinyaRahmi yang sedang sibuk membantu Bi Mariam memotong sayur. Dulu pada saat membawa Rahmike rumah, mereka sudah sepakat mengangkat Rahmi menjadi anak mereka. Ternyata Rahmi adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
“Rahmi” panggil Pak Rizaldi begitu sampai di dapur
“Iya Pa.” jawab Rahmi cepat
“Apa kamu melihat Mbak mu? Dimana dia, Mi?” tanya Pak Rizaldi
Dengan lincah di arahkannya telunjuknya ke arah taman belakang rumah, sambil berkata “Itu Mbak Aibi Pa. Sepertinya sedang menikmati udara pagi di taman sembari menghirup bau harum bunga mawar”. Ungkap Rahmi
Dia dan istrinya langsung berlalu sambil mempercepat langkah mereka menuju Aibi. Tinggallah Rahmi yang kebingungan di belakang. Ada apa gerangan dengan orang tua angkatnya? Kenapa begitu terburu-buru mendekati Aibi? Diapun terus memperhatikan dari dapur.
Langkah kaki istrinya tertegun ketika diperhatikannya sosok yang duduk di kursi roda itu tidak sedang menikmati udara pagi seperti yang dikatakan Rahmi barusan. Tapi tubuh itu sedang bergetar hebat karena menangis. Jiwa keibuan Bu Aisyah seketika langsung meronta-ronta ingin tahu. Dia ingin tau apa yang ditangisi oleh putrinya? Kenapa dia menangis dengan begitu hebatnya?
Dengan langkah perlahan tapi pasti di hampirinya anak gadisnya dan di sentuhnya bahu Aibi dengan lembut. Aibi terkejut, dan buru-buru menghapus air matanya. Di tangkapnya bayangan Mamanya yang sedang berdiri di samping kirinya. Di tegakkanya kepalanya seraya tersenyum “Mama…” katanya kemudian. Itu adalah kata-kata pertama yang dikeluarkannya semenjak dia tahu dengan kondisi dirinya yang mengalami kelumpuhan begitu dia bangkit dari koma.
Alangkah bahagianya hati Bu Aisyah mendengar suara yang selama lima tahun ini telah hilang di telan masa. Hari ini suara yang teramat di rindukannya itu telah kembali lagi. Dan yang lebih penting dari semua itu senyum manis yang terlukis dibibir Aibi. Senyum yang selama lima tahun sudah tidak pernah ada lagi. Tapi hari ini lihatlah, senyum itu begitu indah.
Bu Aisyah tidak tahan untuk tidak menangis. Diapun larut dalam perasaan haru yang memuncak. Di peluknya lembut Aibi sambil melolong “Oh anakku. Di peluknya tubuh itu kuat-kuat dan Aibi pun memeluk tubuh Mamanya, pelukan yang takkan di lepaskannya.
Melihat apa yang terjadi di depan sana, Pak Rizaldipun menghampiri dengan air mata yang meleleh. Di sentuhnya bahu Aibi lembut. Aibi kembali menangis terisak. Kali ini dengan isakan yang lebih keras lagi. Di ambilnya tangan Mama dan Papanya dan diciumnya dengan penuh perasaan. Lama sekali sampai dua tangan itu basah oleh air matanya.
“Maafkan Aibi Ma, Pa. Aibi telah menyusahkan hati Mama dan Papa. Aibi telah membuat Mama dan Papa merasa bersalah dengan apa yang menimpa Aibi. Maafkan Aibi Ma, Pa. Aibi telah membuat Mama dan Papa sedih selama ini”. Ia sesenggukan
Bu Aisyah dan Pak Rizaldi sudah tidak tahan lagi. Mereka berjongkok di depan Aibi dan memeluknya dengan erat. Saking terharu dan bahagia, mereka kehilangan kata-kata. Maka cukuplah air mata sebagai alat komunikasi yang bisa dimengerti
Burung camarpun terbang berbondong-bondong ke tepi pantai sebagai tanda bahwa pergantian musim akan datang. Semburat merah saga di ufuk timur indah menghiasi langit bumi nan cerah, secerah hati Pak Rizaldi dan Bu Aisyah memeluk putri semata wayangnya. Akhirnya rumah besar itupun setelah selama bertahun-tahun kehilangan aura kehidupan, hari ini akan kembali menjemput kebahagian yang telah hilang.
***
9
Aku Ingin Sendiri

Kesendirian memang menyakitkan. Apalagi bila dalam ketidakberdayaan menghadapi kenyataan yang pahit. Tapi terkadang kita membutuhkan kesendirian. Tidak berinteraksi dengan manusia. Bercengkrama dengan hembusan angin atau sekedar mendengar rintik hujan. Kita memerlukan waktu untuk merenung. Itulah yang dilakukan Aibi. Berusaha untuk menata kembali hati dan dirinya. Berusaha untuk tersenyum walau sejatinya hancur di dalam sana. Percakapan-percakapan kehidupan semakin banyak terjadi di dalam hatinya. Mencari tentang benar salahnya kehidupan yang sedang di jalaninya.
“Sayang, boleh Mama mengatakan sesuatu?” tanya Bu Aisyah dengan hati-hati pada suatu malam di ruang keluarga. Tradisi yang hampir hilang di dalam keluarganya.
“Tentang apa Ma?” tanya Aibi singkat.
“Sebenarnya beberapa minggu yang lalu Mama dan Papa menghubungi rumah sakit dunia untuk mencari informasi tentang pengobatanmu. Alhamdulillah mereka menyarankan untuk membawamu ke rumah sakit di Rusia yang mempunyai peralatan medis canggih dan modern. Mereka mempunyai solusi untuk kasus yang kamu hadapi yaitu dengan terapi sel induk, sehingga syaraf-syaraf yang rusak akibat kecelakaan dan cidera tulang punggung bisa di obati
“Mama dan Papa sangat setuju dengan pengobatan tersebut nak. Mana tau, memang di Rusialah kamu akan mendapatkan kembali kesembuhanmu seperti dulu. Bisa berjalan lagi dan melanjutkan kuliahmu ke Jepang. Bagaimana menurutmu, sayang?”. Sudah lama sekali mereka tidak berbicara seperti ini. Dan sudah lama sekali mereka meninggalkan ritual berkumpul bersama di ruangan keluarga. Selama ini kehidupan yang di jalani hanya disibukkan dengan kesedihan yang berkepanjangan. Betapa keluarga kecil itu telah kehilangan arti kebersamaan selama ini.
Mendengar apa yang disampaikan Mamanya Aibi hanya diam saja. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, betapa dia sangat ingin bisa berjalan lagi seperti semula, dan merajut kembali mimpinya untuk kuliah ke Jepang. Tapi setelah hampir selama lima tahun pergi berobat kemana-manatelah membuatnya pesimis. Tidak ada hasil. Jangankan bisa membuatnya berjalan, membuatnya bangkit dan berpindah dari kursi roda ke tempat tidur saja dia tidak mampu. Apakah selama ini dia berobat dengan peralatan yang sederhana? Tidak. Bahkan setiap rumah sakit yang mereka datangi mempunyai peralatan medis yang canggih dan modern.
Sudah terlalu sering tubuhnya di radio terapi untuk mendeteksi kerusakan syaraf tulang belakang yang di alaminya. Hasilnya tetap sama. Nihil. Kesimpulan para dokter sama tidak ada yang berbeda, hanya cara menyampaikannya saja yang berbeda. Bahwa kerusakan syaraf tulang belakang yang di alami Aibi sangat akut. Tidak bisa lagi di sembuhkan. Hanya mukjizat dari Tuhan sajalah yang bisa menyembuhkan semua itu. Aibi tidak menjawab apa yang di utarakan Mamanya. Dia hanya diam seribu bahasa.
Melihat Aibi yang terdiam sambil menundukkan kepalanya, Papanyapun angkat bicara “Papa tahu, kamu kurang yakin dengan semua ini. Tapi apa salahnya kita mencoba, sayang. Mana tau memang di Rusia itulah tempat yang akan membuatmu sembuh, sayang. Seperti yang di katakan Mama tadi”.
Aibi masih belum menjawab apa-apa. Dia mendesah panjang dan memejamkan matanya. Terlihat sekali kalau dia begitu pesimis dan sudah bosan dengan segala macam terapi yang di laluinya selama ini.
“Aibi rasa tidak usah Ma, Pa. Semuanya akan percuma saja. Toh, hasilnya akan tetap samakan? Aibi tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. Belasan rumah sakit telah kita datangi demi berharap kesembuhan untuk Aibi dan puluhan juta bahkan mungkin sudah ratusan juta telah Mama dan Papa habiskan untuk biaya pengobatan Aibi, tapi hasilnya Aibi tidak bisa di sembuhkan Pa. Itu hanya akan menyedihkan hati Mama dan Papa dan juga Aibi. Semua itu hanya akan buang-buang waktu dan juga uang”. Ungkap Aibi lunak. Kali ini tidak ada air mata lagi yang tumpah karena air mata itu telah kering di kerongkongannya.
“Tapi sayang, apa tidak sebaiknya kita coba dulu? Mana tahu memang disana kamu akan mendapatkan kesembuhan? Masalah uang berapa pun tidak usah kamu fikirkan, nak”. Kali ini yang bicara adalah Bu Aisyah, Mamanya.
“Mama pasti lebih paham dengan kondisi yang Aibi alami hari ini Ma. Karena Mama juga seorang Dokter. Mama yang lebih tahu, bukan? Lagi pula, apa Mama dan Papa sudah lupa kalau Aibi Sarjana Biologi walau Aibi tidak pernah di wisuda. Yang banyak sedikitnya juga mengerti mengenai tulang dan juga syaraf.
“Kerusakan yang terjadi bukan kerusakan sel atau jaringan yang bisa di sembuhkan dalam waktu tertentu Pa. Ma. Bukan sekedar kerusakan tulang karena mengalami keretakan. Bukan hanya itu. Bukan hanya sekedar penjepitan pada syaraf yang bisa disembuhkan dengan terapi. Tapi kerusakan syaraf tulang belakang Pa, Ma. Sejauh ini belum ada cara untuk mengatasinya. Mama pasti tau itu. Bahkan dua kaki yang Aibi miliki sudah tidak sempurna lagi. Keduanya telah mengecil karena kelumpuhan ini. Syarafnya sudah tidak berfungsi. Akankah bisa di sembuhkan? Otot-otot kaki Aibipun hampir tidak berfungsi. Sekalipun dengan melakukan terapi sel induk, Aibi rasa sudah tidak bisa lagi. Kita sudah terlambat untuk melakukan terapi, Ma.
“Pa… Ma… Aibi telah mengalami kelumpuhan selama lima tahun. Mama tahu bukan? Pasien yang mengalami cidera pada syaraf tulang belakang hanya bisa di selamatkan dalam waktu tidak lebih dari enam bulan saja. Ini sudah mustahil Ma. Apalagi Aibi mengalami koma yang cukup lama setelah kecelakaan. Aibi tidak mau mengambil resiko lebih parah lagi. Aibi takut jangan-jangan setelah menjalani terapi sel induk, malah Aibi tidak bisa lagi duduk. Kondisi sekarang saja sudah membuat Aibi gila, Ma. Apalagi kalau Aibi tidak bisa duduk lagi, itu akan membuat Aibi lebih gila lagi, atau mungkin bahkan mati.
“Sudahlah Ma, Pa. Terimalah kondisi Aibi yang seperti ini. Berhentilah untuk mencari pengobatan apapun untuk Aibi, karena Aibi tidak akan bisa lagi sembuh. Aibi tidak akan bisa berjalan seperti dulu lagi. Coba Mama dan Papa lihat kondisi kaki Aibi. Tidak ubah seperti kaki tengkorak yang di balut kulit manusia. Ototnya sudah tidak ada lagi, Ma, Pa. Aibi mohon tolong jangan ada lagi pembahasan mengenai semua ini di rumah. Aibi capek harus bertengkar setiap saat dengan bathin Aibi Pa. Aibi lelah Ma. Hanya ketenangan yang Aibi inginkan saat ini. Kecelakaan itu, tolong bantu Aibi untuk melupakannya. Biarlah Aibi menjalani kehidupan ini seperti apa adanya. Jika memang Aibi akan selalu berada di atas kursi roda ini, biarlah. Aibi akan berusaha menerimanya dengan ikhlas, walau semua itu terasa sangat sulit Ma.
“Maafkan Aibi, Aibi tidak bermaksud membantah kata-kata Mama dan Papa. Tapi saat ini, Aibi hanya ingin ketenangan. Aibi ingin melupakan semuanya. Mungkin Aibi terlalu pesimis. Aibi tahu Papa dan Mama sangat menginginkan Aibi untuk bisa berjalan lagi. Itu tidak hanya keinginan Mama dan Papa, tapi juga keinginan Aibi. Hal itu tidak akan terjadi Ma, kecuali jika ada keajaiban Allah”. Ungkap Aibi panjang lebar
Setelah terpuruk dalam kesedihan panjang, akhirnya Aibi mampu menerima apa yang terjadi dalam hidupnya. Jiwa yang murni itu kembali bercahaya di wajah yang mulai meredup.
“Baiklah sayang. Jika itu yang kamu inginkan. Kami tidak akan membicarakan masalah itu lagi”. Ucap Bu Aisyah pelan. Betapa hatinya hancur mendengarkan semua itu tapi dia harus menghargai keputusan Aibi. Lagipula benar apa yang di katakan Aibi. Mustahil Aibi akan bisa berjalan lagi dengan kondisi kedua kakinya yang sudah mengecil. Ah, kenapa dia bisa lupa dengan kenyataan itu? Betapa hatinya basah mendengar apa yang di utarakan Aibi. Sementara Pak Rizaldi tampak sedang berusaha keras untuk menyembunyikan air matanya dengan menengadahkan kepalanya ke atas.
***
Melupakan bukanlah suatu perkara yang sangat mudah dalam hidup ini, apa lagi melupakan suatu peristiwa yang telah membuat hidup menjadi sengsara dan menderita. Mulut boleh jadi telah berkata melupakan segalanya, tapi hati sulit menerimanya. Pergolakan bathin itu masih saja terjadi. Menghadapi kehidupan dengan suram, siapa yang mau? Cita-cita telah ditanam selama bertahun-tahun. Impian telah di semai tapi tiba-tiba hanyut karena banjir bandang kesedihan
Kala sendiri, masih kerap dia menangis membayangkan masa depannya. Dia hanya bahagia ketika di depan orang-orang yang dicintainya. Dibelakang mereka, sering air mata itu jatuh tak terbendung. Bayangan kehidupan yang suram telah menghantuinya. Betapa dia cemas memikirkan kehidupan kedepan. Berapa tahunkah lamanya dia akan menyusahkan orang-orang yang di cintainya? Dia yang dulu adalah seorang yang mandiri dan aktif, kini hanya duduk di kursi roda. Ah, semua terasa berat kawan.
Hanya kepada Allahlah segala duka yang di rasanya dilabuhkan. Dengan demikian maka ketenangan akan menghampiri hatinya sesaat. Dia telah membenamkan dirinya dengan ritual ibadah panjangnya kepada Allah. Beruntung dia pernah mengetahui banyak hal tentang agama. Itulah yang menjadi tameng dan benteng dalam hidupnya. Di balik tubuhnya yang lemahdia persiapkan jiwa yang tegarwalaupun terkadang masih ada saja air mata duka menghantuinya.
****
“Ma, jika Mama mengizinkan Aibi ingin menenangkan diri di perkampungan nelayan, pesisir. Aibi ingin menghindar dari hiruk pikuk kehidupan ini. Disini, Aibi merasa hidup Aibi hampa. Mungkin disana ada sesuatu yang bisa Aibi lakukan. Mungkin disana Aibi bisa memulai kehidupan dengan hal yang baru. ” Kata Aibi suatu ketika pada Mamanya yang sedang menemaninya di kamar.
“Kenapa harus kesana nak? Apa disana tidak akan membuatmu lebih sedih lagi? Mama khawatir nanti kamu ingat lagi kejadian yang menimpamu dulu. Bukankah peristiwa itu terjadi disana? Apa tidak sebaiknya kamu di sini saja?
“Entahlah Ma. Aibi rindu sekali ingin ke sana. Aibi ingin menikmati hari-hari di sana. Aibi merasa disana akan Aibi temukan ketenangan Ma. Disini Aibi merasakan kehampaan yang panjang. Disanalah kehidupan yang lebih baik tengah menunggu Aibi. Setelah berbulan-bulan Aibi merenung, hati Aibi rindu ingin ke sana. Talang perindu itu rasanya memanggil-manggil Aibi Ma. Aibi janji, setelah Aibi bisa menata hati Aibi, Aibi akan kembali lagi kesini untuk Mama dan Papa”.
Bu Aisyah mendekati putrinya dan membelai lembut kepalanya. Dia mengerti, bahkan sangat memahami sekali perasaan putrinya saat ini. Memang butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan segalanya. Saat ini mengabulkan apapun permintaan Aibi sangat baik untuk perkembangan jiwanya. Sebagai dokter dia tahu, kalau Aibi memang sangat membutuhkan suasana seperti ini. Dia tidak akan menghalangi keinginan anaknya itu. Jika memang disana Aibi menemukan ketenangan, kenapa dia harus melarangnya?
“Baiklah sayang. Mama akan membicarakan masalah ini dengan Papamu. Kapan rencananya kamu kesana nak?” tanya Bu Asiyah dengan air mata yang ditelan ke dalam.
“Jika Mama dan Papa mengizinkan, bulan depan Aibi sudah mau berangkat kesana Ma”. Jawab Aibi sembari memeluk tubuh Mamanya.
“Baiklah. Mama akan minta Papa untuk mempersiapkan segala sesuatunya, ya. Mudah-mudahan kamu menemukan ketenangan itu, sayang. Jika kamu tidak menemukan apa yang kamu cari di sana, kembalilah kesini secepatnya. Mama tidak ingin jauh dari mu sayang”. Begitu berat rasanya. Katanya sembari memeluk putrinya dengan penuh cinta dan kasih
”Rahmi, kamu tolong temani Mbakmu disana ya”. Kata Bu Aisyah kepada Rahmi yang duduk tidak jauh dari sana.
“Baik Ma…” Jawab Rahmi singkat.
***
10
Balas Budi

Layar sudah di kembangkan dan sauhpun sudah di angkat. Kapal itu siap menyebrangi lautan dan siap menghadapi amukan gelombang yang mengganas. Bukan gelombang besar yang di takuti. Begitu gelombang itu membesar, semua orang akan meningkatkan kesiagaan penuh untuk keselamatan dirinya. Tapi gelombang kecillah yang di takuti, karena kita sering lalai dengan hal-hal yang kecil yang biasanya mula dari petaka besar yang akan menimpa kehidupan manusia.
Pak Rizaldi yang sudah menjalani kehidupan ini lebih dari setengah abad telah membaca segalanya. Amukan gelombang besar itu telah di hadapi putrinya. Dia sudah hampir berhasil, tapi kali ini gelombang-gelombang kecil masih mengganggu kehidupannya. Dia tidak ingin gelombang-gelombang kecil itu memporak porandakan kehidupan putri semata wayangnya. Apapun akan di lakukannya untuk mengeluarkan putrinya dari sana. Sekalipun harus mengirimnya ke negeri yang jauh. Apa pun akan dilakukan.
“Deni, kamu adalah orang kepercayaan saya yang selama ini telah menemani saya kemana pun saya pergi. Sekarang saya akan mempercayakan anak saya Aibi kepadamu. Selama dia di Padang tolong kamu jaga dia dengan baik. masalah anak dan istrimu, kamu bawa serta mereka ke Padang biar ada yang menghibur Aibi di sana karena dia sangat suka dengan anak-anak”. Kata Pak Rizaldi pada Deni suatu sore. Deni adalah sopir pribadinya kepercayaannya selama bertahun-tahun.
“Saya akan bicarakan dulu dengan istri saya Pak. Mudah-mudahan dia bersedia ikut serta ke Padang”. Timpal Deni.
“Baiklah, dua hari lagi saya tunggu kepastian darimu. Saya sangat berharap kamu bersedia untuk menjaganya di sana. Saya hanya percaya padamu. Bicarakanlah dengan istrimu baik-baik. Jika dia tidak mau, jangan kamu paksakan. Berarti saya harus mencari orang lain untuk menjaga Aibi disana”.
“Baiklah Pak, saya akan datang lagi menemui Bapak secepatnya.”
***
Deni yang semula hanya merupakan seorang pedagang asongan suatu ketika di keroyok oleh preman jalanan. Mereka mengambil semua uang yang menjadi modal usahanya, sehingga dia sudah tidak punya modal lagi. Sementara itu istrinya baru saja selesai melahirkan waktu itu. Dia pusing kemana harus mencari pinjaman, dan iseng-iseng dia yang hanya berbekal ijazah SMA memasukkan lamaran ke kantor Pak Rizaldi yang kebetulan membutuhkan sopir kantor. Akhirnya dia diterima. Tak terkira bahagia hatinya.
Suatu ketika ia mendapat tugas mengantar Pak Rizaldi ke Bandara karena akan berangkat ke Surabaya untuk memenangkan tender pembuatan jembatan layang yang menghubungkan Surabaya dan Madura yang di kenal dengan jembatan Suramadu itu. Malang, karena buru-buru dia lupa membawa kopernya yang berisi uang.
Untung koper itu di simpan Deni baik-baik dan tidak diserahkannya kepada sekretaris pribadi Pak Rizaldi, karena dia takut nanti tidak di serahkan kepadanya. Biarlah dia sendiri yang menyerahkannya kepada Pak Rizaldi. Semenjak itu Deni menjadi sopir pribadi Pak Rizaldi dan merupakan orang kepercayaaannya.
Hari ini, Pak Rizaldi yang baik itu juga meminta tolong kepadanya untuk menjadi sopir anaknya dan menjaganya di Padang. Pantaskah dia menolak? Sedangkan segalanya telah diberikan Pak Rizaldi kepadanya. Rumah, fasilitas yang cukup dan bahkan membiayai biaya rumah sakit anak sulungnya yang diserang penyakit radang paru-paru yang akhirnya tidak dapat tertolong lagi. Pak Rizaldilah yang membayar semuanya tanpa memperhitungkannya sedikitpun. Bahkan sampai hari ini Pak Rizaldi tidak pernah mempertanyakan uang yang habis untuk biaya pengobatan anak sulungnya tersebut. Pantaskah dia menolak? Maka malam itu diyakininya istrinya, agar mau ikut bersamanya ke Padang untuk menjaga Aibi.
“Ibu, anak-anak bisa kita bawa kesana. Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka selama disana. Bu…. Ayah butuh persetujuan Ibu. Pak Rizal sudah mempercayakan Mbak Aibi kepada kita. Yakinlah Bu, ini tidak akan sia-sia.” Deni memulai pembicaraannya dengan istrinya Sri.
Sri hanya terdiam mendengar penuturan suaminya. Dia tahu suaminya adalah orang kepercayaan Pak Rizaldi yang baik itu. Dan dia juga tahu Aibi anaknya Pak Rizaldi, dia juga sangat baik sekali.Tapi pergi ke Padang dan menetap di sana dalam waktu yang belum di ketahui entah sampai kapan, membuatnya sedikit agak keberatan. Padang, terlalu jauh dari kampung halamannya. Tapi menolak keinginan suaminya, jelas tidak mungkin karena dia tahu siapa suaminya. Dia juga tahu kesetiaan suaminya pada Pak Rizaldi.
“Sampai kapan kita akan di Padang Yah? Ibu tidak ingin anak-anak kita nanti sekolah disana dan jauh dari kampung halaman mereka”. Jawab Sri setelah terdiam cukup lama. Merasa tidak punya alasan yang kuat lagi untuk mendebat suaminya.
“Kita do’akan saja supaya tidak lama. Mudah-mudahan Mbak Aibi cepat bisa menata hatinya sehingga kita bisa kembali ke sini secepatnya”. Kata Deni sembari menggenggam erat tangan istrinya.
“Tapi Yah, Ibu sanksi Mbak Aibi bisa melupakan semua yang terjadi dalam hidupnya dengan cepat. Ibu khawatir Mbak Aibi tidak bisa melupakan semuanya. Apa yang menimpa dirinya sangat memilukan. Selama itu pula kita akan berada di Padang? Padang itu terlalu jauh Yah, dan terlalu asing untuk kita. Ibu takut semua itu justru merusak perkembangan anak kita. Kita akan serumah dengan Mbak Aibi yang notabenenya seorang cacat yang tidak bisa apa-apa. Apakah hal itu tidak akan mempengaruhi perkembangan anak kita? Karena saban hari mereka akan melihat Aibi di bantu dan melamun di atas kursi rodanya. Ibu takut dengan semua itu. Mereka terlalu kecil untuk menyaksikan semuanya, Yah”. timpal Sri dengan menundukkan kepalanya. Tidak terbayang olehnya bagaimana kehidupan di Padang yang akan di jalaninya bersama orang cacat seperti Aibi yang sudah tidak bisa apa-apa, kecuali hanya duduk di kursi rodanya.
“Sayang… Justru dengan mereka melihat keadaan Mbak Aibi akan mengajarkan arti empati kepada mereka. InsyaAllah mereka akan tumbuh menjadi anak yang penuh perhatian dan memahami lingkungannya dengan baik. Percayalah Bu, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Ayah yakin, serumah dengan Mbak Aibi akan memberikan pengaruh yang positif kepada anak-anak kita. Kita tahu Mbak Aibi adalah anak yang baik. Kebaikan itu masih ada di dalam hatinya, walau kebaikan itu hari ini masih terbenam dalam kesedihan panjang. Tapi percayalah Bu, kebaikan itu akan kembali muncul dan orang yang akan membantu untuk memunculkan kembali kebaikan itu adalah kita Bu.
“Tidakkah Ibu ingin membalas semua kebaikan yang telah di berikan Pak Rizaldi kepada kita selama ini dengan menjaga anak semata wayang yang sangat dicintainya? Bu, Ayah rasa inilah kesempatan kita untuk membalas semua kebaikan Pak Rizaldi kepada kita selama ini karena kalau kita bayar dengan uang, kita tidak akan pernah bisa membalasnya” ujar Deni sembari membelai lembut istrinya dan menggenggam erat tangannya.
“Hmm…” Kali ini Sri tidak bisa menjawab lagi. Apa yang di katakan suaminya ada benarnya juga. Inilah kesempatan baginya dan suaminya untuk membalas semua kebaikan Pak Rizaldi kepada keluarganya selama ini. Dia ingat apa yang dilakukan Pak Rizaldi ketika anak sulung mereka menderita penyakit kelainan paru-paru yang membutuhkan puluhan juta biaya untuk pengobatannya. Semua itu di bantu oleh Pak Rizaldi tanpa mereka harus membayar dan mengembalikan uang tersebut. Pak Rizaldi mengatakan kalau mereka sudah seperti keluarga baginya. Lalu hari ini apa haknya untuk menolak permintaan orang yang telah berjasa banyak dalam kehidupan keluarganya selama ini? sehingga dia dan keluarganya mampu hidup mapan dan serba berkecukupan.
Ah dia tidak punya alasan untuk menolak. Di angkatnya kepalanya, dan di tatapnya wajah suami yang sangat di cintainya itu. Dilihatnya wajah itu, begitu teduh dan tenang. Bersihdan segar. Tidak se tirus dan sekumuh dulu lagi, enam tahun yang lalu. Di lihatnya anak-anaknya tertidur pulas di samping kirinya. Anak-anak yang sehat dan bersih. Matanya beralih ke bayangan wajahnya yang ada di cermin rias kamarnya. Dilihatnya wajah yang bersih dan bercahaya tidak sekusut dulu lagi.
“Hmmm….” dihelanya kembali nafas beratnya dan kemudian di hempaskannya kuat-kuat. Dipejamkannya matanya dan ditariknya tangan suaminya yang masih menggenggam tangan kanannya ke dadanya sembari berucap.”Ibu ikut Ayah saja. Kalau menurut Ayah ini yang terbaik, Ibu ikut. Insya Allah Ibu ridho Yah. Ibu akan ikut kemana Ayah pergi”. Jawabnya kemudian dengan setetes air bening bergulir di sudut matanya sembari tersenyum.
“Alhamdulillah…. terima kasih ya Bu. Insya Allah ini adalah yang terbaik Bu. Ini adalah jalan yang di berikan Allah kepada kita untuk membalas semua kebaikan Pak Rizaldi, Bu”.
Setelah susah payah meyakinkan, akhirnya istrinya itu luluh juga dan bersedia ikut. Tidak dapat dipungkiri kebaikan Pak Rizaldi selama ini tidak akan terbalaskan oleh mereka.
***
11
Nostalgia Masa Lalu

Di batu itu, telah diukir barisan cerita bathinyang bertema keajaiban tarian cinta. Tema yang tak terbatas oleh benteng keabadian, menghidupkan kembali tulisan senja yang hampir hilang di telan malam.
Keberangkatan menuju janji kehidupan yang lebih baikpun telah di atur. Tangisan perpisahan terdengar pilu menyayat hati, tapi ada pesan tersirat dalam ratapan itu. Pesan penuh kesiapan menghadapi amukan gelombang yang sedang bermain. Pesan tentang kesiapan menghadapi kenyataan yang sungguh sangat menghancurkan hati. Pak Rizaldi akan ikut serta dalam perjalanan penting itu, menghantarkan putri semata wayangnya menuju negeri sejuta pasir yang akan menjadi titik balik dari kehidupan yang akan di jalaninya. Dia telah mempersipkan segala sesuatu yang dibutuhkan Aibi selama di kampung.
Aibi tidak tahu berapa lama berada disana, yang jelas dia akan menikmati kehidupan barunya itu. Dia akan menyelami kembali kedalaman hatinya dan kejernihan fikirannya. Mencari kembali dasar hati yang pernah hilang dan terkubur kesedihan. Dia telah berniat akan menata hatinya dengan baik. Setelah itu dia akan kembali lagi kesini, menjalani kehidupan bersama Mama dan Papanya.
Setelah melakukan penerbangan selama 45 menit akhirnya pesawat yang membawa mereka landing di Bandara Internasional Minangkabau. Sebuah mobil Avanza silver telah menunggu mereka. Mobil itu telah dibeli Pak Rizaldi, karena dia tahu Aibi pasti sangat membutuhkannya untuk pergi kemana-mana.
Perjalanan dari Katapiang Padang Pariaman sedikit mengobati hati Aibi. Dia sedikit bernostalgia dengan masa lalunya sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri di tempat duduknya karena kelelahan melakukan perjalanan panjang. Rasa sakit mulai menyerang punggungnya dan area sekitar pinggulnya. Melihat Aibi menjerit menahan rasa sakit membuat Papanya yang duduk di samping Deni cemas. Tapi untunglah Rahmi cepat bertindak dengan menstel tempat duduk Aibi dengan posisi di rebahkan sehingga Aibi menjadi lebih nyaman. Tapi tetap saja rasa sakit di punggungnya tidak bisa hilangkan.
Semenjak kecelakaan yang di alami Aibi, dia tidak pernah mampu melakukan perjalan panjang yang memakan waktu berjam-jam. Punggungnya hanya bisa tahan duduk selama dua jam saja. Lebih dari dua jam, maka rasa sakit mulai menyerang area sekitar punggung dan pinggulnya. Seperti ada seribu jarum yang menusuk-nusuk di sana. Maka selama dalam perjalanan posisi Aibi harus dibuat senyaman mungkin. Jika masih sakit, jalan satu-satunya adalah dengan memberikan injeksi ke tubuh Aibi dengan menyuntikkan cairan penghilang rasa sakit.
Mereka sampai di rumah Nenek Aibi ketika malam telah merangkak naik. Pintu pagar terdengar berderit ketika di buka. Lampu temaram yang hidup siang dan malam yang tergantung di teras rumah memberikan kesan angker. Lantai marmer yang putih telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan karena sudah terlalu lama tidak dibersihkan. Pintu pun dibuka dan lampu dinyalakan. Tampak perabotan yang ada di dalam terbungkus kain. Mereka sedikit lega. Berarti tidak terlalu banyak debu yang menempel di perabotan rumah. Beruntung sekali ketika Aibi selesai melakukan penelitiannya ia punyai ide kreatif untuk membalut semua perabotan yang ada dengan kain. Semua orang bekerja membersihkan rumah malam hari itu, kecuali Aibi dan dua anak Deni yang telah tertidur pulas.
Aibi tidak sepenuhnya diam, walau rasa sakit di area pinggangnya semakin sering muncul. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahannya, bahkan setengah jam yang lalu Rahmi baru saja selesai menyuntikkan cairan penghilang rasa sakit ke punggung Aibi yang sudah terasa kebas. Aibi sibuk menggerakkan kemoceng kesana sini membersihkan debu yang menempel di kursi.
Akhirnya tiga kamar tidur telah berhasil di bersihkan. Mereka memutuskan untuk melanjutkannya besok saja. Kapan perlu mereka nanti akan memberi upah kepada penduduk untuk membersihkan rumah dan pekarangan yang telah dipenuhi semak belukar. Pak Rizaldi sudah merencanakan akan mengganti cat rumah dengan warna yang lebih asri biar menyejukkan mata Aibi
****
Halaman yang luas, kini telah bersih karena rumput yang tumbuh telah dipotongdan di rapikan. Cat rumahpun telah diperbarui dengan warna biru lembut, warna kesukaan Aibi. Semua perabotan rumah telah di bersihkan. Karpet yang terbentang di tengah-tengah rumah telah di cuci dan di bersihkan. Jendela-jendelatelah bersih dari debu. Gorden baru telah di pasang di pintu dan jendela. Rumah itu tampak terlihat mewah. Semua lampu telah diganti dengan yang lebih mentereng. Sebuah bangku taman di buatkan oleh Pak Rizaldi untuk bersantai di sore hari untuk putrinya tercinta. Semua bunga-bunga yang mati dan layu telah di bereskan oleh Rahmi dan Sri istrinya Deni. Semua loteng yang sudah buram telah di ganti dengan yang baru. Selama seminggu lebih kurang mereka membersihkan rumah dan perabotannya.
Semua pekerjaan telah selesai. Pak Rizaldi harus kembali lagi ke Jakarta secepatnya. Banyak pekerjaan menunggunya di sana. Banyak dokumen penting yang harus ditandatanganinya.
“Sayang, besok Papa akan kembali ke Jakarta. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik disini ya. Ingat, setelah kamu merasa nyaman, kembalilah ke Jakarta. Nikmatilah kehidupanmu disini. Jika kamu membutuhkan sesuatu, minta sama Rahmi, Mas Deni dan Mbak Sri. Anggap mereka sebagai saudaramu sendiri. Jika ada sesuatu yang harus di bicarakan, bicarakan baik-baik. Mama dan Papa, Insya Allah akan sering menghubungimu, sayang. Baik-baik disini ya”. Kata Pak Rizaldi suatu malam setelah selesai makan malam. Dia sebenarnya ingin lebih lama lagi di sini, tapi karena telfon sudah datang bertubi-tubi menanyakan kapan dia akan ke kantor. Ditambah lagi dia kasihan istrinya yang kesepian di Jakarta. Hanya di temani pembantu di rumah.
“Iya Pa. Terima kasih ya Pa. Aibi sayang Papa. Katakan ke Mama, Aibi baik-baik saja. Aibi janji setelah semuanya terasa lapang dan tidak lagi menganggu pemikiran, Aibi akan kembali lagi ke Jakarta Pa”.
“Baiklah sayang. Kalau gitu Papa dan Mama akan menunggumu di Jakarta”.
***
12
Panggilan Rindu

Tancapkan tongkat juang sebagai pancang tali-tali itu.Ada sedetik masa, taklukkan serpihan bambu.Adalah keping jutaan dari penyusun tugu yang kokoh.Kelak menjadi simbol kenangan yangkekal..Ialah terlahir dari sejuta kenikmatan dan kepercayaan. Dengan tangan halus ia tumbuh,karena ia kan menjadi seniman jiwa di Negeri ini.Teramat hebat pemutar waktu. Puzle-puzle kemaren belum tersusun rapi. Mata yang baru saja tertidur, gamang memandang keluar jendela. Mentari itu telah tinggi.Kupu-kupupun mulai terbang tinggalkan taman.Teringat kembali sang desainer yang telah merancang.tugu itu.
Kehidupan kembali di mulai. Semua di tata lagi dari awal, di rencanakan dengan lebih matang lagi. Hari-hari yang di lalui Aibi di habiskanya dengan banyak membaca dan menghafal Al-Qur’an. Dia telah memutuskan akan membenamkan dirinya dengan beribadah kepada Allah. Menyempurnakan ibadah yang selama ini terkadang dirasakannya tidak bermakna. Mendalami setiap kandungan makna yang terdapat di dalam al-qur’an. Semakin di pahaminya, semakin dia mengerti mengenai hakikat kehidupan ini.
Terkadang kala sore datang menghampiri, dia sibuk bercengkrama dengan dua jundi kecil yang ada di rumahnya, Fathi dan Rahmad, anak-anak Deni yang kreatif dan cerdas. Ada-ada saja yang ditanyakannya ke Aibi. Apapun yang mereka lakukan membuat Aibi tidak pernah berhenti tertawa dan tersenyum geli. Sepertinya dia benar-benar telah lupa dengan kesedihannya.
Pak Rizaldi dan Bu Aisyah pun sangat bahagia mendengar semua itu. Apalagi ketika mereka berbicara dengan Aibi. Suaranya sudah kembali ceria seperti semula. Sibuk menceritakan tentang kelucuan anak Deni dan Sri.
Dia asyik dengan hobi barunya menghafal al-qur’an. Ayat-ayat suci penuh makna itu seperti berbicara dengannya. Berdialog dan berinteraksi. Saking asyiknya terkadang dia merasa hidup di zaman Rasulullah karena semua kisah yang di bacanya semakin memperjelas tentang perjuangan maha dahsyat Rasulullah untuk menyebarkan ajaran tauhid ini. Al-Qur’an itu semakin melekat di dadanya. Dia berjanji tidak akan melepaskannya sampai kapanpun. Bahkan dia tidak pernah bosan membacanya. Semakin dia membacanya, semakin dia rindu untuk terus mendalaminya. Seolah dia tidak mau berhenti membaca surat cinta dari Allah itu padanya.
Ternyata hanya ada satu hal yang membuat diri ini tenang dan bahagia. Mengingat Allah. Itulah yang bisa membuat diri kita tentram dan damai. Karena unsur ketuhanan itu akan menuntun kita menuju kejernihan hati dan fikiran. Semakin banyak mengingat Allah, semakin damai hidup ini. Seperti apapun kondisinya. Itulah yang dirasakan Aibi.
Nilai-nilai keagamaan yang bersifat universal, yang di akui oleh semua orang dimana pun dia berada dan apapun agamanya, telah memberikan pencerahan yang sangat dalam ke dalam hati Aibi. Cintanya semakin besar kepada Allah. Dia merasa malu karena telah mengutuki dirinya selama bertahun-tahun. Padahal nikmat Allah tidak pernah putus kepadanya selama ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manalagikah yang kamu dustakan?
Kesadaran telah memenuhi hatinya. Proses pencarian jati diri telah dilakukannya. Senyum itu kembali menghiasi wajahnya. Tatapan mata itu kembali bercahaya dan harapan itu kembali membara. Harapan menjalani kehidupan lebih baik dan bermakna lagi. Ketawadu’an itu kembali menyelimuti wajahnya yang cantik.
***
Bu Aisyah bahagia sekali mendengar perkembangan kejiwaan Aibi. Akhirnya setelah bertahun-tahun tenggelam di kubangan air mata, hari ini putrinya kembali memulai menorehkan segala prestasi yang dulu sempat tertunda. Kali ini memang bukan prestasi yang mendunia, tapi kepeduliannya kepada pendidikan telah di wujudkannya dengan mendirikan yayasan peduli anak bangsa.
Orang kampung memang tidak mengerti dengan yayasan yang didirikannya, tapi kepeduliannya melihat nasib masyarakat setempatlah yang telah membuatnya berfikir untuk mendirikan yayasan ini. Paling tidak sebagai salah satu sarana untuk mendidik moral generasi masa depan. Karena anak-anak hari ini sejatinya adalah pemimpin Indonesia 25 tahun yang akan datang. Salah memberikan pendidikan akan berakibat fatal untuk kelangsungan bangsa ini. Seperti kondisi negara hari ini yang carut marut. Setiap kesalahan dan kegagalan yang terjadi ditimpahkan kepada Presiden yang tidak becuslah kata mereka dalam memimpin rakyat,yang tidak benar dalam mengambil kebijakan. Padahal ketika bangsa ini berada dalam genggaman tangan mereka, bangsa ini juga sangat terpuruk. Karena semua aset berharga di jual. Sebenarnya mereka tidak sportif saja dalam menerima kekalahan, sehingga mencari-cari kesalahan orang lain. Jika selalu seperti itu, kapan bangsa ini akan berubah?
Entahlah kita tidak mengerti dengan para pemegang kekuasaan pemerintahan ini. Media pun menampilkan kebodohan para pemimpin di layar kaca televisi dengan gamblang. Justru malah mereka bangga ketika berhasil menangkap gambar yang aneh dan tidak mendidik, karena akan mempunyai daya jual yang tinggi. Masa iya masalah presiden yang tidak mau berjabat tangan dengan mantan presiden itu harus di tampilkan di layar kaca? Ironinya lagi semua itu di saksikan oleh puluhan juta, bahkan ratusan juta warga negara Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Terkadang kebebasan pers ini telah mengoyak-ngoyak harga diri bangsa. Sudah tidak ada filter lagi dalam penayangan acara di televisi.
Hukum dijadikan bahan candaan, dan para elit politik yang ada di jadikan tokoh pelawak yang di sajikan dalam kemasan acara yang mencabik-cabik harga diri bangsa. Jika sudah seperti itu, dimana letak power seorang pemimpin yang semestinya dilindungi oleh bawahannya dan rakyatnya? Jika bukan kita bangsa Indonesia ini yang menjaga harga diri dan power seorang pemimpin, lalu siapa lagi yang akan menjaganya? Orang Malaysia sana yang secara terang-terangan juga sudah menginjak-injak harga diri bangsa ini. Masa ada polisinya tertangkap di negaranya sendiri ketika sedang melakukan patroli? Itukan aneh bin ajaib namanya. Semua itu akibat apa? Akibat bangsa ini sudah terlalu sering di ejek di depan televisi oleh orang-orang yang mencari keuntungan.
Melihat semua kebodohan di layar kaca itu membuatnya geram. Dan itulah yang dinikmati oleh penduduk awam yang tidak mengerti yang akhirnya ikut menyalahkan pemimpin yang ada. Sungguh tidak mendidik, bukan? Bangku kekuasaan di jadikan panggung drama kehidupan. Seperti simulasi pembebasan para tawanan yang ditawan di dalam pesawat terbang oleh para teroris, yang ternyata terorisnya adalah para pemegang kekuasaan. Masya Allah..
Jika hal ini di biarkan, maka 22 tahun kedepan Indonesia yang dulu dikenal dengan bangsa yang berkepribadian tinggi itu hanya akan tinggal nama. Almarhum istilah agamanya. Aibi tidak ingin hal itu terjadi. Walau bagaimanapun dia mencintai Indonesia. Dia tidak rela jika Indonesia yang permai dan kaya di obok-obok oleh para penjual komersial dan segala sistem pemerintahan yang ada.
Sebagai warga negara yang baik, maka dia ikut membantu kerja pemerintah dengan memberikan pendidikan ke arah yang lebih baik kepada calon-calon pemimpin besar bangsa ini dengan mendirikan yayasan peduli anak bangsa. Dia sudah merencanakan, begitu akta pengizinannya keluarmaka dia akan langsung eksis dengan mendirikan taman kanak-kanak peduli anak bangsa. Kemudian akan dilanjutkan lagi dengan lembaga-lembaga yang lainnya. Pelatihan keterampilan untuk anak-anak putus sekolah, dan lainnya.
Panggilan rindu sang Mama memanggil Aibi untuk berkunjung ke Jakarta. Perencanaan awal yang hanya seminggu, akhirnya di undur menjadi dua minggu, karena pengurusan akta pengesahan yayasan yang didirikannya ternyata memakan banyak waktu. Dan keberadaannya di Jakarta juga di manfaatkan untuk melakukan survei kebeberapa yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sebagai bahan acuannya untuk mendirikan dan mengelola yayasannya nanti.
****
Sementara di sudut sebuah perkampungan kecil, pembangunan itu terus di lanjutkan. Pondasinya telah selesai dan batu bata merahpun satu persatu mulai tersusun di atas pondasi yang di rekatkan dengan semen yang bercampur pasir. Beruntung, Papanya mau menjadi donatur utama pendirian yayasan yang di buatnya. Jadi dia tidak harus mencari kesana kemari. Tentu saja Pak Rizaldi mau, apa yang tidak akan dilakukannya untuk putri semata wayangnya itu. Apapun akan di perbuatnya demi melihat dia tersenyum dan bahagia lagi. Berapapun dana yang di butuhkan untuk mendirikan yayasan tersebut, akan di tanggulanginya semua. Sebut saja jumlahnya, dia akan penuhi.
Ada telfon dari Padang. Deni yang sibuk mengurus masalah pembangunan yayasan tiba-tiba menelfonnya. Awalnya Aibi mengira akan melaporkan masalah pembangunan, tapi ternyata tidak.
Jam 19.00 Deni menghubungi Aibi. Ada sesuatu yang harus di bicarakan dan itu harus meminta izin dari Aibi dulu. Dia tidak bisa memutuskan, karena dia bukan siapa-siapa, dia dan istrinya hanya orang yang di amanahi, sementara yang menjadi pemilik dan berhak berkata iya atau tidak adalah Aibi.
“Assalamu’alaikum Mas”. Sapa Aibi di seberang sana.
“Wa’alaikumussalam, maaf Mbak Aibi saya terpaksa menghubungi Mbak. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan”. Kata Deni memulai
“Iya tidak apa-apa Mas? Apa ada kendala dalam pembangunan yayasan kita, Mas?”
“Tidak Mbak. Masalah pembangunan alhamdulillah lancar”
“Lalu, permasalahan apa yang akan di bahas Mas?”
“Ini Mbak, di rumah sekarang ada Bapak Wali Jorong . Beliau datang kesini untuk meminta persetujuan dan izin dari Mbak”.
“Mengenai apa?”
“Tiga hari lagi ada mahasiswa KKN yang mau datang ke kampung ini. Dan Bapak Wali Jorong sedang mencarikan rumah untuk tempat tinggal mereka. Tapi tidak dapat. Kalau Mbak tidak keberatan, beliau ingin menumpangkan mahasiswa KKN tersebut di rumah ini selama dua bulan Mbak. Beliau sangat berharapMbak mengizinkan, karena tempat sudah tidak ada lagi. Bagaimana menurut Mbak?
Sesaat Aibi terdiam. Di pikirkannya apa yang disampaikan Deni di seberang sana. Di rumahnya ada lima kamar. Dua kamar telah berisi. Masih tersisa tiga kamar lagi. Berarti bisa di tempati oleh mahasiswa KKN tersebut. Lagi pula mungkin nanti bisa memanfaatkan mereka di yayasan untuk merancang segala program dan perencanaan ke depan.
“Berapa orang yang akan datang Mas?” tanya Aibi kemudian
“Mereka ada 12 Orang Mbak. lima laki-laki dan tujuh perempuan, dan rencananya mereka akan di tempatkan dalam satu rumah saja. Apa tidak apa-apa Mbak?
“Oh begitu? Kamar di rumah kita ada lima kan Mas? Dua sudah terisi, masih ada tiga lagi. Yang laki-laki berlima itu di tempatkan satu kamar saja, di kamar bagian paling depan biar tidak bercampur dengan yang perempuan. Yang perempuan di bagi dua kamar saja. Kamar disamping kamar saya itu satu, dan yang lainnya di kamar yang satunya lagi, Mas. Berarti bisa semuanyakan. Tidak apa-apa, tempatkan saja mereka di rumah kita. Mana tau kita nanti bisa minta tolong kepada mereka untuk membantu yayasan kita. Mas bilang sama Bapak Wali Jorong, saya mengizinkan mereka untuk tinggal di rumah selama dua bulan itu.
“Dan satu hal lagi Mas saya minta tolong sama Mas, tolong bersihkan tiga kamar yang akan mereka tempati. Jika nanti mereka sudah sampai maka Mas dan Mbak Sri tuan rumahnya. Mas atur saja dulu bagaimana bagusnya menurut Mas, yang penting pembagiannya seperti itu. Saya mungkin akan pulang ke rumah seminggu lagi, karena masalah pengurusan akta belum selesai”.
“Baiklah Mbak, kalau memang seperti itu”. Telponpun kembali di letakkan dan semua perizinan dan segala macamnya telah selesai, Pak wali Jorongpun pamit undur diri pulang ke rumah.
****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: