DIMATANYA KULIHAT SYURGA

Icha
Aku tidak begitu mengenalnya, yang aku tahu tentang dia hanya nama, itu saja. Tapi tidak tau kenapa, berjumpa dengannya adalah sebuah anugrah bagiku. Banyak hal yang aku pelajari darinya. Banyak hal yang bisa aku ambil darinya. Hm… bagiku dia begitu berbeda.
Awalnya aku fikir aku terlalu berlebihan menilainya, tapi setelah berbulan-bulan merenungkan dan mendengarkan cerita dari beberapa orang tentangnya, hatiku berkata “kenapa harus malu mengakui kelebihan seseorang? Apakah karena dia terlalu jauh lebih muda dariku, sehingga aku tidak mau mengakui kelebihannya? Sombong sekali aku, jika aku melakukan hal itu.
Sejenak aku teringat dengan kisah syaidina Umar Ibnu Al-Khatab yang menangis terisak mendengar komentar seorang anak kecil ketika ditanyanya. Sampai-sampai air matanya membasahi jenggotnya. Kala itu Syaidina Umar Ibnu Al-Khatab sedang berjalan patroli melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Ketika beliau kelelahan, beliau berhenti di sebuah pohon dan melepas lelahnya di sana, tapi ternyata disana ada anak kecil yang memunguti ranting-ranting kayu yang berjatuhan. Di perhatikannya dengan seksama, anak itu tengah menangis sambil memungut ranting-ranting itu. Seketika Hati Amirul Mukminin itu bergemuruh dan ingin tahu kenapa anak itu menangis sedemiakian hebatnya sambil memungut ranting-ranting kayu yang berjatuhan itu? Apakah dia dimarahi Ibunya? Atau?
Dengan cepat Amirul Mukminin menghampiri anak kecil tersebut dan menegurnya lembut. Kenapa engkau menangis sambil memungut ranting-ranting itu Nak? Katanya dengan gelegar suaranya yang khas. Anak kecil tersebut sesaat terkejut, tapi ketika dia tahu itu adalah Amirul Mukminin, maka ditatapnya Amirul Mukminin, sedang tangisnya semakin deras. Sesungguhnya aku sedang berfikir wahai Amirul Mukminin. Katanya kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tangisnya tak berhenti juga. Berfikir tentang apa? Sehingga membuatmu menangis begitu hebatnya nak.
Lalu anak kecil itupun menjelaskan, kulihat kebiasaan orang-orang dewasa ketika ingin menghidupkan api di tungku, maka mereka akan membakar ranting-ranting kayu ini terlebih dahulu wahai Amirul Mukminin. Setelah api menyala, baru mereka akan memasukkan kayu-kayu yang lebih besar ke dalamnya. Lalu terfikir olehku, jangan-jangan nanti di neraka untuk menghidupkan apinya Allah melemparkan anak-anak kecil seprtiku terlebih dahulu kedalamnya, dan setelah apinya menyala, baru Dia melempar orang-orang dewasa. Saya takut memikirkan hal itu Amirul Mukminin, sehingga membuat air mataku tak berhenti mengalir.
Mendengar jawaban anak kecil yang cerdas itu, kini giliran Syaidina Umar Ibnu Al-Khatab yang menangis begitu hebatnya, sampai jenggotnya basah. Setelah itu di belainya kepala anak kecil tersebut dan berkata. Jangan takut nak, Allah tidak akan melemparkan anak-anak kecil berhati bersih sepertimu kedalam neraka. Karena neraka itu hanya diperuntukkan kepada mereka yang tidak menaruh rasa takut kepada Allah selama hidupnya di dunia, sehingga mereka berbuat sekehendak hati mereka.
****
Mungkin ada yang bertanya, lalu apa hubungannya kisah ini dengan kisah Syaidina Umar Ibnu Al-Khatab di atas? Memang kisah ini tidak seindah kisah Syaidina Umar Ibnu Al-Khatab dengan anak kecil itu, tetapi dari sinilah aku belajar tentang arti sebuah ketaatan. Dari sinilah aku belajar tentang arti sebuah pengorbanan. Dan dari sinilah aku belajar untuk mengakui kelebihan seseorang, sekalipun dia jauh lebih muda dariku.
Ah Tuhan, untuk pertama kalinya aku terenyak menyaksikan kejadian yang maha dahsyat di lingkungan yang kata mereka adalah penjara suci ini. Ketika hampir semua anak memperlihatkan perlawanan dan tingkat komplain yang sangat tinggi akan peraturan yang di terapkan, bahkan anak-anak yang menjadi tanggung jawabku sendiri hampir setiap hari menjelang mereka protes dengan semua peraturan yang di terapkan, karena mereka mengira semua ini terlalu lebay.
Hampir setiap pagi menjelang aku mendengarkan anak-anakku berbicara tentang peraturan yang lebay dan alay. Ah, betapa sebenarnya aku ingin marah mendengarkan semua gunjingan mereka. Tapi lagi aku berfikir, mereka masih kecil dan cinta akan kebebasan, kelak ketika mereka telah keluar dari sini mereka akan bersyukur pernah di didik dengan tegas di tempat ini. Terkadang aku berfikir, andai aku bagian dari mereka, andai aku di beri kesempatan kembali menikmati masa seperti mereka, mungkin akan banyak ilmu yang akan aku dapatkan, dan mungkin aku tidak akan seperti sekarang hanya mendekam di dalam sangkar emas yang indah, dan membiarkan separoh dari potensi yang aku miliki mati. Ah, aku ingin kembali menikmati masa-masa seperti mereka. Jika pintaku di kabulkan aku ingin mengulanginya di sini. Tapi bukankah berandai-andai itu tidak boleh? Tapi lagi-lagi aku berandai-andai. Andai orang tuaku adalah orang tua yang mapan dan peduli dengan pendidikan anak-anaknya tak akan aku seperti ini, mungkin aku juga akan di sekolahkan di tempat ini. Tapi semua itu hanya khayalan belaka.
Dalam masa seperti itulah aku berjumpa dengannya. Dan aku menemukan keajaiban yang luar biasa yang akhirnya membuatku menangis terisak-isak menyaksikan kejadian yang maha dahsyat itu. Aku tidak menyangka aku akan menemukan anak kecil yang di temui syaidina Umar di tempat ini.
Dalam rakaat-rakaat terahirnya yang begitu tenang dan khusuk, ku lihat wajahnya yang tenang dan bercahaya. Dia terus menyelesaikan rakaat-rakaatnya dengan tuntas tanpa terpengaruh dengan gerakan-gerakan cepat di sisi kiri dan kanannya. Aku terenyak menyaksikan semua itu. Fikiranku mengembara, kepalaku dipenuhi banyak tanya, dadaku bergemuruh hebat ingin menuntaskan semua kepenasaranan ini. Siapa malaikat kecil itu? Siapa gadis kecil itu? Dari mana dia berasal? Kenapa tiba-tiba dia ada disini? Kemana saja dia selama ini? Kenapa baru aku temui dia disini? Tanya itu memenuhi rongga dadaku.
Wajahnya yang masih polos tatapan matanya yang tenang, senyumnya yang indah dan menawan. Membuatku semakin larut dalam perasaanku, bahkan tak ku sadari, buliran-buliran air mata telah menetes di kelopak mataku. Tuhan, sungguh untuk pertama kalinya aku mengerti ketaatan kepadaMu ternyata tidak mengenal usia. Lihatlah gadis kecil itu, dalam usia beranjak belia, dia mampu memaknai setiap cengkramanya denganMu. Betapa bahagianya orang tua yang mempuanyai anak gadis se sholehah dia.
Kulihat dia begitu tenang, tidak sama dengan yang lainnya. Lalu salahkah aku Tuhan, dalam pandangan pertama aku telah jatuh cinta padanya. Ah… Dadaku semakin sesak. Aku selalu rindu ingin melihatnya, karena melihatnya yang tenang juga mendatangkan ketenangan di hatiku.
****
Tuhan selalu ada cara untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada setiap orang yang di pilihnya bukan? Dan itupun terjadi pada gadis kecil itu. Lagi tanpa sepengetahunnya, aku kembali di buatnya menangis terisak. Aku iri kepadanya, kenapa dia yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan ungkapan cinta dariNya yang tak bertepi? Oh Tuhan, lagi untuk kesekian kalinya aku iri kepadanya. Di usianya yang masih dini dan belia, kau beri dia pemahaman yang sangat indah tentang hidup ini, hingga aku melihat syurga yang indah di matanya yang sendu.
Senyum manisnya yang tak pernah hilang dan akhlaknya yang menawan tidak akan ada satu orangpun yang akan mengira dia mempunyai beban yang sangat serius yang sedang di tanggungnya, begitu juga denganku. Aku tidak tahu, dia mempunyai duka yang dalam. Karena sungguh Tuhan, tak kulihat dia mengeluh, walau hanya sekali. Setiap kali ku melihatnya selalu dia sedang beribadah kepadaMu, sibuk dengan hafalan qurannya. Jika tidak demikian ku lihat dia sedang berdiskusi dengan temannya. Dan tempat yang paling di senanginya untuk diskusi dan menghafal adalah tangga masjid. Hm… Sungguh pintar dia menyembunyikan semuanya Tuhan.
Dia tetap tersenyum kepada siapapun dan menjalankan semua kegiatan yang ada di sini dengan penuh kesungguh-sungguhan. Tak pernah kulihat dia bermuka suram. Sepanjang pengamatanku, sungguh tak pernah aku melihatnya. Sekali lagi ingin aku katakana, dia sangat pintar menyimpan semua dukanya sendiri untuk gadis se usianya.
Aku saja, yang bukan pelaku dalam cerita ini mungkin berkali-kali akan jatuh dan tertelungkup di jalanan. Jika hal itu terjadi padaku. Tapi dia, tetap tenang, bahkan semakin kumelihat syurga dimatanya, untuk semua penerimaannya. Untuk semua keikhlasannya. Ketika aku tahu sebuah fakta tentang dirinya yang bersahaja, yang sedang di landa duka, antara Impian dan harapan orang tua. Kamu tahu kawan dia memilih apa? Dia memilih mewujudkan harapan orang tuanya. Karena baginya bakti kepada orang tua adalah segalanya. Oh, begitu indah penerimaan yang Kau ajarkan padanya Tuhan.
Masih terdengar di telingaku suaranya yang khas mengatakan kepadaku perihal dirinya. “Aku sendiri Mi. Papaku tidak mengizinkanku untuk keluar dari riau kali ini, aku harus ada di Riau mi”. tak ada air mata, tak ada yang bergetar. Dia benar-benar menyampaikannya dengan segala penerimaannya. Tapi justru aku yang bergetar mendengarkannya. Tahukah kalian mengapa dia tidak di izinkan keluar dari sana? Andai kalian tahu, tak akan terbendung air mata kalian. Mungkin kalian akan berkata sungguh sangat luar biasa dia. Ya, aku yakin itu.
Tapi kalian tahu apa yang aku katakana kepadanya saat itu, akan jadi apa kamu nak, kalau masih berada di bawah ketiak orang tuamu? Justru karena kamu sendiri itu kamu harus kuat, agar menjadi tempat bergantung orang tuamu di masa tuanya kelak. Kamu harus menjadi orang besar. Raih cita-citamu yang setinggi langit. Bukankah kamu ingin menjadi ahli psikologi? Wujudkan mimpimu nak. Kepakkan sayapmu.
Tapi bagaimana dia akan mengepakkan sayapnya? Sayapnya patah sebelum dia terbang. Harapannya pupus sebelum dia mulai menapaki perjalannya. Tapi tahukah, dia hanya tersenyum mendengarkan apa yang aku katakan. Tapi seolah aku mendengar jeritan hatinya. “Umi. Umi tidak tau apa yang ana rasakan, umi tidak tau apa yang ana fikirkan. Betapa ana ingin terbang tinggi, membumbung ke angkasa raya, meraih semua mimpi dan cita-cita yang telah ana retas semenjak awal memasuki perguruan ini, tapi apalah daya ana mi, sebelah kepak sayap ana patah, ana tidak bisa terbang tinggi seperti yang umi katakan. Bahkan untuk berjalan menapaki mimpi-mimpi itu saja ana tertatih.
Umi, Umi tau? Ada satu kondisi yang membuat Ana tidak mungkin melakukan semua ini Mi. Ana tidak ingin datang terlambat. Ana tidak mungkin meninggalkan kembali kedua orang tua ana hanya untuk mencapai Impian pribadi ana mi. karena hidup bukan untuk diri ana sendiri. Umi, Umi tau? Mama ana saat ini lebih membutuhkan ana mi, lebih dari apapun, dan sekali lagi Umi, sungguh ana tidak ingin datang terlambat. Izinkan ana untuk menyempurnahkan bakti ana kepada kedua orang tua ana Mi. sebelum semuanya terlambat. Cukup sudah enam tahun ana meninggalkan beliau berdua saja Mi, sekarang saatnya ana kembali kepangkuannya. Biarlah, ana akan mengikuti apa kata beliau untuk ana, karena se utuhnya ana adalah haknya. Ana ikhlas insya Allah Mi.”.
Lagi air mata itu mengalir deras. Tuhan, dia memang sudah menerima segalanya bahkan dengan segala keihklasan yang Engkau ajarkan kepadanya. Tapi, aku mengemis padaMu Tuhan, untuk gadis kecilku itu. Aku akui, jika itu terjadi padaku aku tidak akan bisa seperti dia mengubur segala impian dan cita-citanya begitu saja. Kali ini untuk pertama kalinya aku mengakui dia jauh lebih hebat dariku Tuhan. Maka aku ingin Tuhan, jangan hancurkan mimpinya hanya karena semua ini. Aku mohon padaMu Tuhan, izinkan dia menjadi seperti apa yang dia cita-citakan selama ini. Izinkan dia mengepakkan sayapnya, terbang tinggi ke angkasa raya mencapai cita-citanya yang mulia. Jangan biarkan sebelah sayapnya terkulai. Aku mohon padaMu Tuhan. Untuk anak sebaik dirinya, bukankah dia harus Engkau bantu dengan segala kemahakuasaanMu? Itu harapku padaMu Tuhan.
****
*Untuk santriku Annisa Fauziah yang telah menginspirasi hidupku. Terima kasih untuk pemahaman yang kau ajarkan kepada Umi. Bertemu denganmu adalah sebuah anugrah yang sangat indah. Terima kasih untuk semuanya.

Iklan

3 Comments

Add yours →

  1. bacanya belom tamat.. terusin nanti lagi yak
    😀

  2. Subhanallah…. Tidak hanya orang dewasa yang bisa memberikan kita pelajaran berharga. Orang yg lebih muda dari kita pun bisa demikian…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: