Aura Kemenangan

Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan yang di ambil pasti ada resiko yang akan ditanggung. Terlahir ke dunia inipun merupakan sebuah pilihan. Apakah kita memilih untuk menjadi seorang pemenang atau pecundang, itu semua adalah pilihan yang harus kita ambil. Ketika kita memilih untuk menjadi seorang pemenang, maka kita harus siap menghadapi semua hambatan dan rintangan dalam kehidupan ini. Karena kemenangan itu tidak diberikan secara gratis dan cuma-cuma kepada kita, tetapi diraih dengan penuh perjuangan. Penuh dengan tetesan air mata dan keringat bahkan darah sekalipun.

Dalam hidup yang kita jalani saat ini, kita sering kali salah dalam mengambil keputusan. Kebanyakan dari kita menginginkan akan kemenangan itu. Tapi hanya sedikit diantara kita yang ingin berjuang untuk mendapatkan semua itu. Karena apa? Karena mental yang kita miliki adalah mental seorang pecundang, bukan mental seorang pejuang yang siap meraih kemenangan. Lalu, akankah kemenangan itu menyertai langkah kaki kita? Akankah kita keluar sebagai pemenang di akhir episode kehidupan ini?

Tentu saja semua itu mustahil akan kita dapatkan. Karena sudah menjadi sunnah tullah, bahwa kita akan mendapatkan sesuatu itu sesuai dengan apa yang kita usahakan. Tidak mungkin kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini, kalau toh ternyata usaha yang kita lakukan hanya sedikit. Walaupun semua itu akan kita dapatkan, maka saya yakin itu hanya sebuah kebetulan saja.

Jika kita analogikan sehari-hari, seseorang yang bekerja dalam dunia pertambangan perak, maka tidak akan mungkin dia akan mendapatkan emas yang bukan menjadi tujuan dari penggaliannya dalam pertambangan itu. Mustahil orang tersebut akan mendapatkan emas itu. Walaupun nanti dia mendapatkannya, maka hal itu hanya sebuah kebetulan saja. Maka begitu juga dengan kemenangan itu. Apakah mungkin seseorang yang hanya duduk berpangku tangan akan mendapatkan kemenangan yang gemilang dalam kehidupan ini? Jika dibandingkan dengan orang yang berjuang keras dalam mewujudkan kemenangan dalam hidupnya? Jawabannya, tentu saja tidak sama antara keduanya.

Jika kita menapaktilas kembali perjalanan hidup orang-orang sukses dipanggung sejarah kehidupan, yang nama-namanya telah tercatat indah dalam lembaran-lembaran sejarah, maka kita akan menemukan perjalanan panjang yang mereka lakukan untuk meraih kemenangan itu, seperti Buya Hamkah yang akhirnya menjadi seorang ulama terkenal dan sastrawan yang diperhitungkan di Indonesia pada tahun 40-an, ternyata kehidupan yang beliau jalani sebelumnya penuh dengan polemik-polemik, penuh dengan tantangan-tantangan yang tak jarang terkadang mengancam keselamatan nyawahnnya. Tetapi semua itu tidak menyurutkan nyalih beliau dalam meraih sebuah kemenagan dalam kehidupan ini. Justru dalam keadaan yang sangat memprihatinkan sekalipun beliau malah berhasil menciptakan sebuah karya besar (tafsir Al-Azhar-red) yang sampai sekarang masih dipakai oleh para ulama sebagai rujukan-rujukan dalam mengambil fatwah. Kenapa beliau bisa meraih semua itu? Jawabanya hanya satu, yakni karena beliau telah memutuskan bahwa beliau harus menjadi seorang pemenang, bukan pecundang. Sehingga beliau selalu berusaha dan berusaha untuk mencapai semua itu, sekalipun beliau
harus mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya, sekalipun beliau berada di dalam penjara.

Begitulah ketika semangat itu mengelora, maka dengan sendirinya keberanian untuk mencobapun akan muncul, sehingga kita tidak lagi peduli dengan semua hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Semuanya tiada berarti lagi, karena aura kemenagan itu sudah berada di dalam gengaman tangan.

Namun terkadang semangat yang mengebuh-ngebuh yang dimiliki oleh seseorang hilang begitu saja ditengah jalan. Hilang di telan waktu. Karena tantangan dan tantangan yang hadir dalam kehidupan tidak sanggup mereka hadapi. Sehingga mereka mundur dari kanca perjuangan, dan kemenangan yang mereka nanti dan idam-idamkan hilang begitu saja. Padahal kemenangan itu hampir diraihnya. Padahal kemenangan itu tinggal sedikit lagi. Lalu, apa yang salah dalam usahanya? Sebenarnya, tidak ada yang salah. Cuma mereka saja yang kurang sabar dalam mengentas sebuah kemengan itu. Andaikan mereka sedikit lebih bersabar, maka saya yakin kemenangan itu akan tetap mereka raih dan kemenangan itu akan tetap berpihak kepada mereka. Jika tidak di dunia, maka di akhiratpun akan mereka raih. Dan itulah kemengan yang hakiki.
Sekedar semangat dan keberanian untuk mencoba ternyata tidak cukup untuk menjadi seorang pemenang. Akan tetapi kesabaran dalam meraihnya juga sangat berperan penting dalam mencapai sebuah kemenangan yang gilang gemilang itu. Karena untuk mencapai kemenangan itu membutuhkan waktu yang lama. Kemenangan itu tidak bisa diraih dengan simsalabin saja, akan tetapi membutuhkan perjuangan yang panjang. Baru dunia bisa bertepuk tangan untuk kemengan yang diraih.
Tetapi mental pecundang yang kita miliki telah mengekang kita untuk berbuat dan berkarya. Padahal Allah sang pencipta telah memberikan jumlah waktu yang sama kepada kita dengan orang-orang sukses lainnya. Tapi kenapa kita tidak bisa meraih sebuah kemenangan yang sudah teruntuk untuk kita? Apa bedahnya kita dengan mereka? Bukankah mereka juga memiliki waktu 24 jam? Dan kita juga memilikinya. Tetapi kenapa kita begitu jauh tertinggal dibelakang? Bahkan Buya Hamkah yang karyanya sudah kita nikmati, dan kadang-kadang menemani waktu-waktu luang kita, beliau tidak pernah sekolah. Beliau tidak pernah mengenyam bangku pendidikan seperti yang kita rasakan hari ini. Bahkan dalam hidupnya beliau hanya mengenal satu orang guru saja yakni ayah beliau Haji Abdul Karim. Ternyata kita telah dikalahkan oleh seorang yang tidak pernah sekolah.

Sementara kita, kita mempunyai guru yang banyak bahkan ada di antara guru yang kita miliki seorang profesor, tetapi karya apa yang sudah kita buat? Karya apa yang akan membuat Indonesia bangga kepada kita nantinya? Kemenangan apa yang sudah kita raih dalam hidup kita?

Padahal, Allah telah memberikan kunci kesuksesan itu ke tangan kita masing-masing. Maka semunya tergantung kepada kita, apakah kita akan membuka pintu itu dengan kunci yang sudah ada ditangan kita masing-masing? Atau kita akan membuang kunci itu, dan membiarkan pintu itu tertutup begitu saja. Semuanya tergantung kepada kita. Karena sesungguhnya kehidupan itu adalah pilihan.

Untuk itu saya mengajak kepada para pembaca, mari kita sama-sama membuka pintu kesuksesan kita dengan kunci yang ada di tangan kita masing-masing. Mari kita buat Indonesia bangga kepada kita dengan karya-karya terbaik yang kita persembahkan untuk Negara tercinta. Tidakkah kita rindu suatu saat nanti Indonesia menyayikan lagu Indonesia Raya untuk kita? Saya yakin pasti kita semua sangat merindukannya. Untuk itu mari kita sonsong kesuksesan itu, karena aura kemenangan itu semakin dekat dalam genggaman tangan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: