Ibu!!! Gelar Tertinggi Peradaban

Menjadi seorang ’Ibu’, adalah impian semua wanita. Dimanapun dia berada, maka panggilan ‘Ibu’, adalah panggilan yang sangat dirindukannya. Akan berkurang kesempurnaan seorang wanita, apalagi seorang wanita yang sudah menikah, jika tidak ada seorangpun yang memanggilnya dengan panggilan ’Ibu’.
Dunia ini akan terasa hampa, dan kehidupan tiada bermakna, seperti apapun hebatnya seorang wanita, punya harta melimpah, suami gagah, dan jabatan tinggi di tempat kerja, jika tidak ada yang merengek memanggilnya ibu, maka semua itu tiada bermakna, terasa hambar, bagaikan sayur tanpa garam.
’Ibu’, tiga huruf ajaib, yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh seorang wanita. Apapun panggilannya yang mempunyai makna yang sama dengan kata ’Ibu’ adalah rangkaian huruf-huruf ajaib, yang mampu membuat air mata ini mengalir dengan derasnya, ketika pertama kali mendengarkan kata itu di sebutkan oleh mulut yang lemah, namun mengandung berjuta kekuatan. Karena ’Ibu’ adalah gelar tertinggi peradaban. Puncak kebahagian seorang wanita, bukti nyata seorang wanita sejati.
Tidak semua orang mendapatkan gelar ajaib itu, tidak semua wanita adalah seorang ibu, namun seorang ibu, pastilah wanita sejati yang dirindukan banyak orang. Belaiannya dirindukan ribuan orang, tatapan matanya adalah tatapan penuh makna, tangisannya adalah neraka bagi anaknya. Tapi gelar itu telah terkontaminasi dengan beribu virus yang siap menyerang jantung hati seorang wanita sejati.
Karir telah merubah segalanya. Pekerjaan telah menyulap semuanya, yang tersisa hanyalah seorang ’ibu’ yang tak lagi berperan sebagai mana mestinya. Gelar peradaban tertinggi itu telah teracuni dengan harta yang berlipat ganda, sehingga menyia-nyiakan gelar berharga itu.
Banyak wanita yang menangis di penghujung malam kepada Tuhan Sang Penguasa Jagad, agar diberikan kesempatan untuk menjadi seorang ’Ibu’, namun pengharapan itu tak kunjung jua diijabah oleh Sang Pemilik Jagad ini. Sementara ribuan wanita yang sudah diberikan kesempatan untuk menjadi seorang ibu, tak menjalankan tugasnya dengan baik. Apa yang terjadi? Apakah sebutan itu tidak lagi diminati oleh seorang wanita? Apakah wanita sudah enggan untuk dipanggil ibu?
Tuntutan profesi selama ini, penghasilan yang melebihi penghasilan seorang Bapak, telah menggeser posisi seorang wanita di rumah tangga. Dia malu, jika penghasilannya yang dua kali lipat dari penghasilan suaminya harus tetap mencebokkan anaknya yang buang hajat. Dia malu, penghasilannya yang mendominasi penghasilan suaminya, tapi harus menyiapkan bekal untuk anaknya pergi sekolah. Ibu akan malu, ketika jabatannya di tempat kerja lebih tinggi dari jabatan suaminya yang hanya tukang ojek, harus tetap membuatkan kopi di pagi hari untuk suaminya, sehingga tugas mulia seorang ibu, digantikan dengan peran seorang Baby Sitter, pembantu rumah tangga dan pengasuh TPA (Tempat Penitipan Anak), yang saat ini sudah menjamur di mana-mana.
Wajar saja akhirnya seorang suami lebih perhatian kepada pembantu rumah tangganya ketimbang pada istrinya sendiri. Wajar saja akhirnya si buah hati, bukti cinta sepasang suami istri itu lebih dekat dengan Beby Sitternya, ketimbang ’Ibu’ yang melahirkannya. Karena saat ini, betapa banyak para ’Ibu’ yang menyia-nyiakan gelar tertinggi peradaban ini, dan mementingkan gelar akademik yang didapatkan dari Universitas ternama. Ia rela berkorban apapun demi menyelamatkan nama baik kampus tempatnya menuntut ilmu, termasuk rela meninggalka si kecil mungil yang baru berumur hitungan bulan. Ibu mempercayakan pengasuhannya kepada Beby Sitter atau orang tuanya yang sudah mendekati rentah. ’Ya, begitulah tutuntan profesi’. Katanya ketika ditanya.
’Ibu’, kata itu tidak lagi kata ajaib yang kehadiranya ditunggu oleh seorang wanita, bahkan kata itu belakangan menjadi suatu momok yang menakutkan bagi seorang wanita yang sibuk berkarir selama ini. Dia takut, sebutan itu akan mengganggu karirnya ke depan. Dia takut, sebutan itu akan melunturkan kecantikannya. Dia takut, sebutan itu akan mengeritingkan rambutnya yang sudah di rebounding. Dia takut, sebutan itu akan melecetkan kuku-kuku jarinya. Dan dia takut, sebutan itu akan memelarkan pinggulnya yang sintal.
Ketakutan-ketakutan itu, membuatnya rela meracuni anak-anaknya di usia dini dengan berbagai makanan tambahan yang ternyata belakangan di ketahui mengandung zat-zat yang berbahaya untuk pertumbuhan bayi. Karir telah melalaikan seorang wanita dari tugas pokoknya sebagai seorang ibu. Padahal ’Ibu’ adalah guru dan madrasah pertama bagi seorang anak. Demi karir terkadang seorang wanita mau melakukan apapun. Sungguh tidak ada larangan bagi seorang wanita untuk menjadi wanita karir, silahkan malakukan pekerjaan apapun yang diingginkannya, silahkan berkarir sesuka hati, namun jangan pernah tinggalkan tugas pokok menjadi seorang wanita, yaitu menjadi seorang ’Ibu’ teladan bagi anak-anaknya. Karena ibu adalah gelar tertinggi peradaban dunia. Ribuan wanita tengah menunggu gelar itu datang menghampirinya. Lalu, bagi yang sudah mendapatkannya, akankah gelar itu disia-siakan begitu saja? Mari kita tanyakan ke hati kita masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: